Print
Hits: 8532

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

  

Setelah peristiwa Pentakosta, kita temukan praktek pencurahan Roh Kudus dilakukan lewat penumpangan tangan (bdk. Kis 8:17; 19:6), atau terjadi pada saat berdoa (bdk. Kis 4:31). Hal ini diketahui orang lain karena mereka berbahasa aneh/asing (yaitu bahasa Roh) dan memuliakan Allah (bdk. Kis 10:46). Praktek penumpangan tangan kemudian dilakukan oleh Rasul Paulus (bdk. 2Tim 1:6) dan oleh penatua-penatua (bdk. 1Tim 4:14). Di dalam Surat Yudas kita juga temukan istilah “berdoa dalam Roh Kudus” (lih. Yud 1:20).

Dalam perkembangan Gereja selanjutnya kita tidak banyak menemukan tulisan mengenai penumpangan tangan yang diikuti pencurahan Roh Kudus dengan gejala berbahasa Roh. Tampaknya, “pencurahan Roh Kudus lewat penumpangan tangan disertai bahasa Roh” lenyap selama berabad-abad dan dilupakan orang. Hal ini lebih-lebih memberi kesan bahwa nubuat Nabi Yoel “Aku akan mencurahkan Roh-Ku” hanya mengacu pada peristiwa Pentakosta.

 

KARYA ROH KUDUS PASCA-PENTAKOSTA

Tidak adanya pencurahan Roh Kudus yang disertai dengan bahasa Roh (selanjutnya disebut pencurahan Roh Kudus) selama berabad-abad setelah zaman para Rasul tidak berarti bahwa Roh Kudus berhenti berkarya. Kita ingat bahwa sebelum naik ke Surga, Tuhan Yesus berjanji akan mengutus Sang Penghibur, yaitu Roh Kudus (bdk. Yoh 16:7). Yesus juga berjanji akan menyertai kita sampai akhir zaman (bdk. Mat 28:20). Sungguh, janji Tuhan ini digenapi. Akan tetapi, tampaknya dalam perjalanan Gereja, karya Roh Kudus tidak tampak secara langsung sebagai “pencurahan” ke atas “semua manusia”. Istilah “pencurahan Roh Kudus” mengandung makna: banyak, sekaligus/serentak, bersama-sama, kepada banyak orang, tetapi ada juga pencurahan Roh Kudus kepada individu-individu dan kepada lembaga Gereja atau bentuk lain yang bukan “pencurahan Roh Kudus atas semua orang”. Riwayat hidup para kudus, yang menjadi penuntun dan teladan hidup yang berkenan kepada Allah, muncul sepanjang sejarah perjalanan Gereja. Juga, banyak orang Kristen yang dalam hidupnya sungguh-sungguh menghayati hidup kekristenan dan bahkan rela menderita demi kemuliaan Tuhan. Hidup yang demikian tentu mencerminkan kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus.

Roh Kudus selalu menjiwai dan menyertai setiap orang yang mau membaktikan hidupnya bagi Allah. Dorongan Roh Kudus begitu kuat membuat individu-individu berkembang dalam pengenalan akan kasih Allah, menjadikan mereka dewasa dalam pengenalan akan Allah, serta ingin selalu dekat dengan-Nya. Karya Roh Kudus terus mengalir sehingga dalam setiap zaman selalu muncul pribadi suci yang sangat besar pengaruhnya, misalnya Mother Teresia dari Kalkuta. Teladan hidup orang kudus sangat kuat dalam memelihara dan mempertahankan ajaran Kristiani. Roh Kudus yang berkarya dalam diri orang kudus sama dengan Roh Kudus yang berkarya pada peristiwa Pentakosta. Nubuat Nabi Yoel harus digenapi, karena nubuat itu adalah firman Allah sendiri. Roh Kudus telah dicurahkan pada peristiwa Pentakosta. Pencurahan Roh Kudus ini akan terulang kembali pada akhir zaman. Adalah tugas semua umat Kristiani untuk menantikan, mengenali, dan menyambutnya karena pencurahan Roh Kudus mempunyai peran yang sangat penting pada akhir zaman, yaitu mempersiapkan umat Kristiani menjelang kebangkitan dan pengangkatan sebelum masa anti-Kristus.

 

KAPAN PRAKTEK PENUMPANGAN TANGAN DALAM GEREJA KATOLIK MUNCUL KEMBALI?

Pada tahun 1960-an umat yang memraktikkan penumpangan tangan disertai bahasa Roh tidak lagi meninggalkan Gereja asalnya, melainkan tetap di Gereja asalnya. Mereka menghidupkan apa yang pernah ada dalam Gereja dan itu merupakan sarana yang berguna untuk pertumbuhan iman Kristiani. Pada sekitar tahun 1967 setelah Konsili Vatikan II penumpangan tangan disertai bahasa Roh masuk Gereja Kristen Katolik dan dalam waktu singkat berkembang ke seluruh dunia.

Memang pada mulanya ada reaksi-reaksi. Banyak orang bertanya-tanya gerakan apakah itu. Dan, seperti kita ketahui bahwa setelah Konsili Vatikan II banyak imam yang meninggalkan imamatnya dan hidup berkeluarga. Pada saat itu Gereja mengalami “gelombang krisis imam”. Banyak orang khawatir, jangan-jangan kini giliran umat Kristen Katolik yang keluar menjadi umat Gereja Reformasi. Kita pun ingat doa Bapa Suci pada pembukaan Konsili Vatikan II, “Ya Tuhan, perbaruilah Gereja-Mu dengan keajaiban-keajaiban seperti Pentakosta baru.” Gereja dalam situasi sulit sungguh-sungguh pasrah kepada Tuhan dan membiarkan Tuhan campur tangan untuk mengatasi kesulitan yang sedang melanda Gereja-Nya. Sebenarnya umat Kristen Katolik dan para pemimpin Gereja juga sangat mengharapkan datangnya Pentakosta baru, yaitu “Pentakosta pada akhir zaman” atau menantikan penggenapan nubuat Nabi Yoel! Akan tetapi, tampaknya umat memandang peristiwa Pentakosta (pencurahan Roh Kudus) hanya sebagai peristiwa masa lalu, yang tidak akan terulang kembali.

Roh Kudus selalu datang dan memperbarui Gereja-Nya. Oleh karena itu, dalam Gereja muncul suatu gerakan, yaitu gerakan Karismatik yang melaluinya peristiwa Pentakosta terungkap kembali. Bila kita amati maka semua fenomena pada peristiwa Pentakosta zaman para rasul ada pada gerakan ini, hanya tidak ada lidah api yang turun ke atas kepala umat.

Hal serupa juga terjadi pada pencurahan Roh Kudus lewat penumpangan tangan yang dilakukan oleh para Rasul dan penatua setelah peristiwa Pentakosta. Jika kita membaca Kitab Suci secara saksama, khususnya Kisah Para Rasul, kita jumpai karya Roh Kudus yang begitu nyata dan para Rasul serta umat Gereja perdana mempunyai hubungan yang mesra dengan Roh Kudus. Karya Roh Kudus yang nyata dalam diri mereka merupakan dampak dari Pentakosta. Setelah Pentakosta juga terjadi pertobatan dan ada juga yang menerima karunia-karunia/karisma-karisma Roh Kudus tertentu.

Kejadian serupa kita jumpai kembali dalam gerakan Karismatik, mereka yang bergabung dalam kelompok ini mengalami suatu pengalaman akan Allah yang hidup, penuh kasih, dan menyelamatkan. Banyak yang menceritakan tentang pengalaman mereka yang mengharukan, puas, gembira, senang, bercampur penyesalan atas dosa di masa lalu, sekaligus rasa optimis mantap menatap hari esok. Terjadi perubahan–perubahan perilaku a.l. lebih rajin berdoa, haus membaca dan merenungkan Kitab Suci, lebih ringan memandang masalah duniawi, serta memiliki sikap pasrah kepada Tuhan, tidak seperti sebelumnya: mereka hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan mereka semata-mata. Mereka juga sangat menghayati sakramen-sakramen dan memandangnya sebagai sarana untuk pertumbuhan iman, harapan, dan kasih kepada Allah dan sesama. Mungkin kita bertanya, “Fenomena apakah yang terjadi pada gerakan Karismatik? Roh manakah yang bekerja? Roh Kudus atau roh jahat atau akal-akalan saja?” Yesus berkata, ”Dari buahnyalah kamu akan mengenal pohonnya” (bdk. Mat 7:16-20). Perlu diingat, gerakan Karismatik dengan persekutuan doanya itu berkumpul untuk memuji Allah Bapa, Allah Putra-Yesus Kristus, Allah Roh Kudus. Bukan berdoa kepada ilah-ilah lain atau berhala. Yang mereka dambakan adalah kehadiran Roh Kudus dan hal itu memang mereka alami sehingga mereka mengalami damai dan sukacita dan merasakan kedekatan dengan Tuhan. Dengan melihat adanya pertobatan, penyesalan atas dosa di masa lalu, dorongan untuk membaca Kitab Suci yang begitu kuat, penghayatan sakramen-sakramen, serta pembaruan hidup, maka jelaslah bahwa ini adalah buah karya Roh Kudus dan bukan berasal dari roh jahat atau roh yang lain.

Pada saat pencurahan Roh Kudus kadang-kadang terjadi cucuran air mata yang tidak dapat dibendung disertai rasa haru yang berat. Bila seeorang dipenuhi kuasa Roh Kudus, maka terjadilah suatu perubahan. Jika sebelumnya terdapat suatu perasaan benci yang tersembunyi terhadap Allah dan sesama, maka sekarang Roh Allah datang kepadanya dan membuktikan bahwa sesungguhnyalah Dia baik dan pemurah, bahwa Dia adalah sahabatnya dan bukan musuh. Dia membuka mata hati manusia dan menunjukkan semua hal yang telah mampu Dia lakukan bagi manusia dan memperlihatkan bukti bahwa juga Putera-Nya yang Tunggal tidak ragu-ragu diberika-Nya kepada manusia. Roh Kudus menempatkan kasih Allah ke dalam hati manusia. Dengan cara demikian Dia membuatnya menjadi manusia baru yang dengan sepenuh hati mengasihi Allah, dan manusia ini menginginkan untuk melakukan apa yang Allah minta daripadanya. Dari tingkat budak, Dia mengangkat manusia menjadi putera-puteri-Nya, dan dalam keadaan bingung dan bahagia manusia berseru kepada-Nya, “Abba, Bapa, sekarang aku telah mengenal-Mu.” Inilah mukjizat Pentakosta. Inilah yang disebut “lahir baru di dalam Roh”.

Inilah yang sangat kita rindukan dan harapkan dalam hidup ini. Hanya kuasa Roh Kudus yang dapat melakukan hal yang demikian.

Oleh kuasa Roh Kudus, manusia dapat memiliki kesadaran baru akan Allah sebagai Bapanya. Roh Kudus mengisi hati banyak orang dengan suatu perasaan kepercayaan yang mendalam. Mereka telah merasakan kasih dan kemurahan Allah dengan sedemikian kuatnya, sehingga bila dia mengingat hal ini, maka dia akan tersentuh dan mengeluarkan air mata. Untuk beberapa orang, terbukanya rahasia Allah Bapa pada diri mereka disertai juga dengan perasaan yang belum mereka alami sebelumnya mengenai belas kasih Allah, kebijaksanaan, dan kekudusan-Nya, sehingga mereka akan tertegun diam dalam penyembahan terhadap-Nya. Mereka telah merasakan dan mengalami apa yang telah dialami oleh orang-orang tertentu yang hatinya telah dibakar oleh api Roh Kudus dan mereka hanya dapat berkata, ”Allah adalah api cinta kasih yang melahap yang membakar segala kelemahan kami dan menjadikan kami manusia baru.”