Print
Hits: 5761

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pendahuluan

Roh Allah selalu menciptakan hati yang baru (Mzm 51:10) di dalam setiap orang yang berkehendak baik. Tidak seorang pun yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah akan dapat melarikan diri dari Roh Allah, dari kehadiran-Nya yang aktif dan penuh kasih (Mzm 139:7). Namun di padang gurun yang kering dan tandus ini, yaitu bumi, Roh Allah terbang diatas tempat yang segar oleh kehidupan Allah. Maria adalah “tempat” tersebut yang sejak saat pertama hidupnya dinaungi oleh awan perlindungan Allah.

 

Allah Mempersiapkan Maria

Karena Allah adalah Mahasuci, maka rahim yang akan ditempati oleh Allah haruslah suci, bersih dari segala noda. Sejak semula Allah telah menentukan rahim siapakah yang akan menjadi tempat kediaman Sang Putra. Pius IX dalam dokumen resminya menyatakan: Sejak saat dikandungnya Perawan Maria yang amat bahagia terlindung/terpelihara (praeservatam) bebas dari segala noda (labes) kesalahan asal (originalis culpae) berkat kasih karunia yang seluruhnya istimewa dari pihak Allah Yang Mahakuasa, berdasarkan (intuitu) jasa (merita) Kristus Yesus, Juru Selamat umat manusia yang sebelumnya sudah dilihat Allah” (Pius IX, Bulla Ineffabilis Deus XII-8-54; DS 2803).

Maria adalah mahkota perutusan Putra dan Roh Kudus. Bapa dalam keputusan keselamatan-Nya menemukan tempat tinggal dimana Putra-Nya dan Roh-Nya dapat tinggal di antara manusia. Roh Kudus “menyiapkan “Maria dengan rahmat-Nya. Sungguh pantas ibu dari Dia yang dalamnya “berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol2:9), adalah penuh rahmat. Semata-mata karena rahmat, sebagai makhluk yang paling rendah hati, yang paling sanggup untuk menerima karunia yang tidak terucapkan dari Yang Mahakuasa, ia dikandung tanpa dosa...” (Katekismus 721).


Roh Kudus Mengubah Hidup Maria

Kuasa Roh Kudus yang diterima oleh Maria sejak dalam kandungan itu selanjutnya memberi kesadaran yang terus menerus kepadanya bahwa seluruh keberadaannya adalah bait Allah dan bahwa Roh Kudus diam di dalam dirinya dengan cara yang sangat istimewa sekali. Dengan demikian, Maria telah ditentukan serta dijadikan makhluk yang serba baru oleh Roh Allah sendiri. Sejak saat itulah Roh Kudus terus berkarya dalam diri Maria. “Di dalam dia mulailah “karya-karya agung” Allah yang akan diselesaikan Roh dalam Kristus dan dalam Gereja.                

Keagungan Maria terletak dalam kerja samanya dengan Roh Kudus. Ia adalah model bagi semua orang Kristiani justru karena ia selalu menyerahkan diri kepada kuasa Roh Kudus yang menguasai seluruh hidupnya. Ia benar-benar tokoh Kristen yang paling karismatis karena setiap saat hidupnya yang selalu sadar untuk bekerjasama dengan gerak Roh Kudus dalam iman dan ketaatan.

Karena Roh Kudus yang tinggal dan memenuhi seluruh ada Maria maka seluruh tindakan dan seluruh hidupnya dijiwai oleh Roh Kudus sendiri, juga dalam misteri inkarnasi. Oleh karena Roh Kuduslah maka Maria mampu mengatakan “ya” pada kehendak Allah meskipun pada saat itu Hukum Taurat menentukan bahwa wanita yang hamil di luar nikah harus dirajam. Roh Kuduslah yang membuat Maria mampu mengambil resiko walaupun dia harus mengalami masa-masa sulit. Roh Kuduslah yang membuatnya tidak ragu akan firman Allah. Roh Kudus telah membawa dia kepada pertunangan dengan Yusuf. Saat itu dengan jelas dan tegas apa yang harus dihayati dan dialaminya dalam iman selama hidupnya sebelum bekerja sama secara peka dengan ilham Roh Kudus. “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau.” (Luk 1:35)

Berdasarkan pengalaman nyata yang sering kita jumpai dewasa ini, jikalau seseorang telah dipenuhi dengan Roh Kudus maka kehidupannya menjadi berubah, segala yang dilakukannya penuh dengan kebaikan dan sukacita sehingga sukacita itupun terpancar keluar dan orang lain dapat merasakan sukacita tersebut. Demikian pula dengan Maria, ketika Roh Kudus menggerakkan dia untuk mengunjungi Elisabet saudarinya yang tengah mengandung karena kasih karunia Allah, merasakan pancaran kuasa Roh Kudus. Dia mengatakan bahwa ketika Elisabet mendengar salam dari Maria maka melonjaklah bayi yang dalam kandungannya dan kemudian Elisabet dipenuhi dengan Roh Kudus (Luk 1:44). Sejarah ini memberi kesaksian nyata akan kehadiran Roh Kudus dalam hidup Maria. Suatu hubungan intim antara Maria dan Roh Kudus yang sangat nyata sehingga hanya dengan kehadirannya saja membawa efek yang tidak terbayangkan sebelumnya; anak di dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan dan Elisabet sendiri juga dipenuhi dengan Roh Kudus. Sungguh kenyataan yang tidak dapat dilukiskan. Semakin nyatalah bahwa Maria adalah seorang Kristen Karismatik yang ideal bukan saja karena Roh Kudus yang memenuhi dan menguasai seluruh hidupnya, tetapi juga karena ia menyalurkan kuasa Roh Kudus kepada orang lain sehingga orang lain pun kepenuhan dengan Roh Kudus.

Roh Kudus adalah sumber sukacita. Dimana Roh Kudus hadir, disitulah sukacita penuh. Hukum Taurat menentukan bahwa wanita hamil diluar pernikahan harus dirajam dan dalam keadaan itu justru Maria penuh dengan syukur dan pujian kepada Allah. Disinilah semakin jelas kehadiran Roh Kudus dalam diri Maria. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Maria tidak meragukan firman Allah. Roh Kuduslah yang memenuhi hati Maria dengan pujian dan syukur serta mendorongnya untuk melagukan Magnificatnya.

Pada saat suci ketika Sabda Allah dikandung di dalam rahimnya, Maria mengalami bahwa Roh Kudus tidak hanya hadir, tetapi juga mengerjakan pengilahian dalam dirinya. Pada saat itu ia mendapatkan kerajaan Allah yang mulia dalam dirinya. Selanjutnya, bersama dan oleh Roh Kudus, Perawan Maria melahirkan Sang Putra Allah. Roh Kuduslah yang menyuburkan rahimnya untuk melahirkan Penyelamat bangsanya, pemimpin suatu kerajaan kekal (bdk. Luk 1:35-48).

Karena Roh Kudus yang memenuhi Maria maka Maria dihidupi oleh kehidupan Allah sendiri secara lebih lengkap. Ia diberi pengertian lebih lengkap tentang peranannya dalam sejarah keselamatan. Karena dipenuhi oleh Roh kudus, Maria memiliki kasih Allah sendiri yang menguduskan dia sebagai tempat kediaman-Nya. Karena dinaungi oleh Roh Kudus itulah Maria menerima kekuatan untuk menghayati pembaktiannya yang baru sebagai Bunda Mesias.


Peranan Roh Kudus bagi Maria dalam Mendampingi PutraNya

Setelah Yesus dilahirkan di kandang Betlehem, peran Roh Kudus dalam hidup Maria tidak berhenti disini. Roh Kudus terus dan tetap memenuhi seluruh ada Maria atau bisa dikatakan bahwa Maria dan Roh Kudus telah menjadi satu. Seluruh kehendak dan tindakannya telah selaras dengan kehendak Yang Kudus. Ketika Maria tidak mengerti akan jalan-jalan yang harus dia alami, dia tetap percaya pada bimbingan Roh Kudus. Roh Kudus mengajak dan memampukan Perawan Maria untuk senantiasa menyimpan segala perkara dalam hatinya, menyimpan dalam hatinya segala kata-kata dan fakta mengenai kelahiran dan masa kanak-kanak Putranya dimana Maria sendiri memegang peran yang begitu intim dan penuh cinta (bdk. Luk 2:19.33.51).

Ketika Maria diundang dalam sebuah pesta nikah di Kana melihat bahwa tuan rumah kehabisan anggur, karena dorongan Roh Kuduslah maka Maria dengan lembut mendekati Putranya, hanya dengan kalimat “mereka kehabisan anggur” ini seolah-olah Maria mampu membuat Yesus mau melakukan sesuatu. Kalimat yang mengungkapkan kepercayaan penuh kepada Sang Putra.

Roh Kudus, Roh yang memberi kekuatan dan keberanian terus ada dalam diri Maria, sehingga dia mampu mengikuti jalan salib Putranya. Ibu mana yang mampu melihat dan mengikuti jalan penderitaan anaknya jikalau bukan karena kekuatan dari Roh Allah. Karena Roh Kudus dia kuat memandang Putranya di pertengahan jalan salib. Karena Roh Kuduslah maka dia kuat mendampingi Putranya, ikut menderita bersama Sang Putra, berani tetap berdiri di bawah kaki salib Putranya dan kekuatan untuk menerima Sang Putra di pangkuan dalam keadaan tidak bernyawa. Keberanian Maria tetap seperti dulu pada waktu Kabar Sukacita mengilhamkan kepadanya dan fiatnya terhadap kehendak Bapa Surgawi yang menghendaki agar Maria sebagai ibu mau mendampingi Putranya yang rela berkorban demi penebusan umat manusia.

Di bawah salib inilah Maria mengalami pemurnian Roh Kudus yang terakhir. Kita tidak selalu sadar akan kegiatan Roh Kudus yang sangat kuasa dalam hati orang-orang Kristen yang kepadanya Allah ingin memberikan diri bahkan dalam hidup ini, dalam suatu persatuan yang mengerjakan perubahan mendalam. Persatuan tertinggi yang dialami orang mistik Kristen manapun pasti sudah pernah dicapai oleh Maria melalui Roh Kudus.

Dari kedalaman dirinya, oleh kuasa Roh Kudus yang mencurahkan iman, harapan dan kasih dalam dirinya, Maria menyerahkan diri untuk membaharui “fiat”nya, “Jadilah padaku menurut perkatan-Mu.” Bapa surgawi membenamkan dia ke dalam lautan kegelapan dan kepahitan yang mengerikan. Kuasa Roh Kudus yang mengubah dan menyatukan membawa Maria ke dalam tingkat baru persatuan dengan Bapa, Putra dan Roh Kudus kedalam persatuan yang seimbang dengan penderitannya.

Selanjutnya, komunitas Kristen lahir karena turunnya Roh Kudus. Pada saat itu Maria, Bunda Yesus, ada bersama Gereja yang baru lahir itu (bdk. Kis 1:14). Ia ada saat lahirnya Yesus dan ia ada pula saat lahirnya Gereja, “bayi” selanjutnya. Sehubungan dengan ini Konsili Vatikan II menyatakan: “Karena Allah berkenan tidak memanifestasikan misteri keselamatan manusia secara mulia, sebelum mencurahkan Roh yang dijanjikan Kristus maka kita melihat para rasul sebelum hari Pentakosta sehati sejiwa tekun dalam doa bersama wanita-wanita dan Maria, Bunda Yesus, serta saudara-saudara-Nya (Kis1:14). Kita melihat pula Maria memohon anugerah Roh dengan doa-doanya, Roh yang sudah menaunginya disaat ia menerima warta” (LG No. 59).


Peristiwa Pentakosta dan Kehadiran Maria

Jikalau pada hari Pentakosta Maria menerima pencurahan Roh Kudus dengan anugerah dan buah-buah Roh yang diberikan kepadanya dan kepada para murid Yesus maka tidaklah sulit untuk percaya bahwa Maria baik sebelum maupun lebih-lebih setiap hari sesudah Pentakosta, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Roh Kudus yang diam dalam dirinya. Setiap orang Kristen sejati didiami oleh Roh Kudus, tetapi tidak setiap orang dikendalikan oleh Roh Kudus.

Roh Kuduslah yang mempersiapkan Maria untuk memperoleh karunia istimewa yang terakhir yaitu diangkat ke surga. Terangkatnya Sang Perawan ke surga merupakan salah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Sang Putra. Santo Yohanes dari Damyik pada pesta Maria Diangkat ke Surga, menulis sebagai berikut: “Karena itu, kami tidak akan menyebut keberangkatanmu yang suci kematian, tetapi berbaring untuk tidur atau bepergian ke luar negeri atau lebih baik lagi pulang ke rumah. Sebab, dengan meninggalkan perkara-perkara tubuh, engkau mulai memiliki perkara-perkara yang lebih baik.”

 

Penutup

Roh Kudus turun atas Maria tidak hanya pada waktu Maria mengandung Sabda Allah dalam rahimnya. Akan tetapi, umat Kristen sejak awal mula percaya bahwa Roh yang sama melindungi Maria sejak awal hidupnya di dunia. Maria merupakan model kita, seperti dialah kita harus menjadi. Hubungan Maria dengan Roh Kudus tidak terjadi melalui salah satu anugerah yang diterimanya, tetapi terletak dalam lapisan tertinggi kesadaran manusiawinya akan Allah yang berkuasa sepenuhnya atas hidupnya, akan kemiskinannya sendiri di hadapan kekudusan sebesar itu, akan kesatuannya yang tidak terungkapkan dalam kasih dengan Allah Tritunggal. Dalam kesatuannya itu Maria menyadari keunikannya dan memuji Allah yang sudah memiliki dia sebagai yang terberkati oleh Yahwe yang dengan berbelaskasih telah memperhatikan hamba-Nya yang hina dina.

Kita telah menyaksikan pencurahan Roh Kudus yang luar biasa dan pembebasan umat Allah melalui pembaruan hidup dalam Roh. Iman di dalam pembaruan hidup dalam Roh yang sangat akrab dengan Roh Kudus menemukan teladan dan pembimbing surgawi dalam diri Santa Perawan Maria. Karena dalam diri Santa Perawan Maria terlihat bahwa seluruh hidupnya yaitu dari awal hidupnya dalam kandungan hingga akhir hidupnya selalu ada dalam kuasa Roh Kudus. Seluruh tindakannya dijiwai oleh Roh Kudus. Maria adalah tokoh pembaruan hidup dalam Roh yang paling sempurna karena dalam kasih setia dan taat ia telah menyerahkan diri untuk mengabdi Sabda Allah. Itulah sebabnya maka Santa Perawan Maria menjadi model dan teladan hidup kita.

Santa perawan Maria secara sungguh istimewa telah bekerja sama dengan Roh Kudus dalam karya keselamatan, yaitu melalui ketaatannya, iman, pengharapan dan kasihnya yang selalu berkobar. “Karena ia menyetujui secara penuh dan utuh atas kehendak Bapa, karya penebusan Putra dan setiap dorongan Roh Kudus maka Perawan Maria adalah contoh iman dan cinta bagi Gereja” (LG 53).