Print
Hits: 14177

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

 

PENDAHULUAN

Yesus telah memberi kita suatu tugas perutusan sebagaimana terdapat dalam Yoh. 20:21, “Maka kata Yesus sekali lagi: Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Tugas perutusan ini juga terdapat dalam Mat.28:18-20, “Yesus mendekati mereka dan berkata: Kepada-Ku telah diberikan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Apabila Yesus memberi suatu tugas kepada kita, Ia juga memberi kita kuasa dan wewenang untuk melakukannya. Ia memberikan kita Penolong yaitu Roh Kudus-Nya sendiri, yang memampukan kita untuk menjalankan tugas perutusan ini. Pelayanan kita ada di dalam kuasa Roh Kudus (bdk. 1Tes.1:5). Yesus sendiri berjanji bahwa kuasa Roh Kudus dicurahkan bagi semua orang yang percaya (Mrk.16:17).

Dalam menjalankan perutusan ini, Yesus sendiri telah memberi kita teladan, yaitu dengan menjadi seorang pelayan sebagaimana ucapan Yesus sendiri dalam Mrk.10:45, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Ini berarti sebagai pengikut Kristus kita juga dipanggil untuk melayani Allah dan sesama. Model pelayanan kita adalah pelayanan Yesus sendiri.

 

PELAYANAN YESUS DALAM KUASA ROH KUDUS

Seluruh pelayanan yang dilakukan oleh Yesus dimaksudkan juga untuk dilakukan oleh kita, para pengikut-Nya (Yoh.14:12). Yesus datang ke dunia untuk membawakan apa saja yang ada pada Allah: kekuatan, kebaikan, kemurahan, sehingga kita dapat melihat Allah dalam diri Yesus. Selain itu, seluruh pelayanan Yesus dilakukan-Nya dalam persatuan dengan Bapa, “…dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan, Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku, Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” (Yoh.8:28-29) Yesus melakukan segala karya-Nya dalam kuasa Allah. Karya dan mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya adalah suatu tanda akan kehadiran Allah.

Sejak dikandung dan saat dilahirkan, ternyata Yesus telah mendapat tanda-tanda istimewa. Sebagai Mesias, Ia telah diurapi secara resmi, yaitu pada saat dibaptis di sungai Yordan (Luk.3:21-22). Setelah itu dikatakan dalam Luk.4:1, “Yesus yang penuh dengan Roh Kudus kembali dari sungai Yordan.” Sesudah dipenuhi Roh Kudus, Yesus didorong ke padang gurun selama 40 hari. Di situ Ia membiarkan diri-Nya dibimbing oleh Roh Kudus. Yesus menyerahkan diri kepada Bapa, sehingga kuasa Roh Kudus dapat bekerja secara sempurna. Tanpa penyerahan, tidak ada bimbingan Roh Kudus. Selanjutnya, dalam kuasa Roh Kudus, Yesus kembali ke Galilea untuk memulai karya-Nya. Roh Kuduslah yang sesungguhnya membimbing Yesus untuk melaksanakan kehendak Bapa. Karena itu seluruh karya Yesus ada dalam kuasa Roh Kudus.


 

MENGEMBANGKAN PELAYANAN DALAM KUASA ROH KUDUS

Untuk dapat mengembangkan pelayanan dalam kuasa Roh Kudus, kita harus memperhatikan beberapa hal penting, yakni:

a. Tujuan pelayanan,

b. Macam-macam bentuk pelayanan,

c. Citra seorang pelayan yang baik,

d. Dasar pelayanan.       

 

a. Tujuan Pelayanan

Kalau kita berbicara tentang tujuan pelayanan, kita harus juga berbicara tentang tujuan Pembaruan Karismatik Katolik, yang secara singkat dapat dinyatakan sebagai berikut:

1. Membawa orang-orang pada pertobatan yang sungguh-sungguh sehingga Tuhan betul-betul menjadi pusat hidup mereka.

2. Membawa orang-orang yang telah bertobat pada pertumbuhan hidup rohani yang lebih dewasa.

3. Membawa suatu pembaruan umat Allah, melalui pembaruan pribadi demi pribadi.

 

Sejalan dengan tujuan Pembaruan Karismatik Katolik, tujuan pelayanan kita dapat kita bagi menjadi dua yaitu:


1. Tujuan jangka pendek:

Membuat pribadi-pribadi menjadi murid Kristus yang sejati, yang semakin lama semakin menyerupai Kristus. Dengan demikian, Yesus sendiri semakin tampil dan tampak melalui pikiran, ucapan, tindakan, pekerjaan dan segala segi kehidupan.

 

2. Tujuan jangka panjang:

- Melalui pembaruan pribadi-pribadi, akhirnya seluruh Gereja dapat diperbarui.

- Masuknya pemerintahan Allah (kerajaan Allah).

 

Kedua tujuan ini tidak dapat tercapai begitu saja. Justru dengan melayani, kita perlahan-lahan mencapai tujuan ini.

 
b. Macam-macam Bentuk Pelayanan

Banyak bentuk pelayanan yang dapat kita lakukan sesuai dengan karunia yang diberikan Tuhan kepada kita, antara lain:

- Evangelisasi atau Pewartaan

- Puji-pujian

- Pengajaran

- Doa Syafaat

- Konseling

- Pelayanan yang berhubungan dengan bermacam-macam karunia Roh Kudus (karunia-karunia Roh Kudus ini diaktifkan melalui persekutuan doa atau pertemuan komunitas), dll.

 

c. Citra Seorang Pelayan yang Baik

Jika kita mengerti citra seorang pelayan yang baik, diharapkan kita dapat menghindarkan banyak kesalahan dan kita dapat berbuat banyak serta berkembang lebih maju dalam pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Citra seorang pelayan yang baik dapat kita sebutkan sebagai berikut:



1. Seorang pelayan yang baik harus mendasarkan hidupnya atas iman

Iman di sini mencakup ketiga tingkatan iman yaitu iman intelektual, iman kepercayaan dan iman penuh pengharapan. Iman timbul dari pendengaran akan Kitab Suci. Oleh karena itu, merupakan suatu keharusan bagi seorang pelayan untuk senantiasa mendalami firman Tuhan. Dengan semakin bertumbuhnya iman kita, maka pelayanan kita pun akan semakin berkembang. Kita akan menyaksikan keajaiban karya Tuhan dalam hal-hal yang sebelumnya kita anggap mustahil.

 

2. Seorang pelayan yang baik harus memiliki hati yang dipenuhi cinta dan belas kasih

Iman tanpa cinta kasih bisa menjadi sangat keras dan bersifat menuntut terhadap orang lain. Maka di sini amat dibutuhkan cinta dan belas kasihan Allah sendiri, yang mengalir di dalam diri kita agar kita dapat melayani sesama. Dan agar kasih Allah senantiasa mengalir dalam diri kita, dibutuhkan suatu hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan. Seorang yang mau melayani tapi tidak mempunyai hubungan yang intim dengan Allah sama saja dengan pendusta. Orang yang sungguh dekat pada Tuhan mempunyai suatu keberanian untuk percaya yang luar biasa, karena dia tahu Tuhan mencintainya bukan karena jasa-jasanya, tapi melulu karena kebaikan-Nya. Yesus dalam seluruh pelayanan-Nya mengalirkan kasih Bapa. Kita mungkin tidak dapat menjadi sempurna, namun kita harus menuju kepada kesempurnaan kasih. Orang yang sempurna adalah orang yang merasa dirinya sendiri paling tidak sempurna. Jika kita merasa suci, ini berarti kita masih jauh sekali dan sempurna. Tapi semakin seseorang itu dekat kepada Tuhan, semakin ia menyadari kerapuhannya dan kekecilannya di hadapan Tuhan.

 

3. Seorang pelayan yang baik haruslah dapat mendengarkan

Terlalu banyak orang yang suka memberi nasihat tanpa mau mendengarkan, padahal kebanyakan orang itu amat butuh didengarkan. Kalau kita dapat mendengarkan dengan baik, sebenarnya kita dapat menolong lebih banyak lagi orang.

 

4. Seorang pelayan yang baik haruslah seorang pendoa

Sebagai pelayan Allah, kita haruslah mengenal dengan baik Allah yang kita layani. Bagaimana mungkin kita dapat menyampaikan sesuatu tentang Allah kalau kita tidak mengenal-Nya dengan baik secara pribadi? Supaya kita dapat mengenal Allah secara pribadi, kita perlu banyak membaca surat cinta-Nya, yaitu Kitab Suci. Selain itu, kita perlu pula untuk banyak berdoa. Tanpa doa kita tidak dapat berbuat apa-apa. Bila kita mempunyai sikap doa dan hubungan pribadi dengan Allah, kita akan merasa bahwa tidak ada apapun juga yang dapat menekan kita, karena kita yakin bahwa kita sepenuhnya berada dalam tangan pemeliharaan Allah.


 

5. Seorang pelayan yang baik haruslah selalu berusaha mencari kehendak Allah

Ia harus selalu memurnikan motivasinya agar motivasi pelayanannya adalah melulu untuk menuruti kehendak Allah. Banyak contoh kejatuhan pelayan Tuhan karena motivasi yang bergeser dari pelaksanaan kehendak Allah. Motivasi yang tidak benar misalnya: uang, gengsi, nama baik, dan lain-lain. Banyak juga orang yang pada awalnya mulai melakukan pelayanan dengan baik dan tulus namun berakhir dengan kehancuran karena motivasinya lama-kelamaan diselewengkan oleh si jahat. Untuk menghindarkan penyelewengan-penyelewengan, sebaiknya pelayan melayani dalam suatu tim/kelompok secara bersama-sama.

 

6. Seorang pelayan yang baik haruslah mempunyai kelepasan pada buah-buah karyanya

Kita tidak boleh mengikat atau membuat orang-orang yang kita layani tergantung pada kita. Kita tidak perlu sakit hati apabila orang yang kita layani suatu saat berkonsultasi pada orang lain. Jika kita tidak mengikat orang lain pada kita, justru kita akan mempunyai banyak sahabat. Kita harus meneladan sikap Yohanes Pembaptis ketika banyak pengikutnya meninggalkannya dan datang kepada Yesus. Yohanes berkata, “Yang mempunyai mempelai wanita adalah mempelai laki-laki.” Juga apabila kita telah selesai melakukan suatu pelayanan, sebaiknya kita berkat, “Aku ini hanyalah hamba yang tidak berguna yang melakukan apa yang harus aku lakukan.”

 

7. Seorang pelayan yang baik haruslah rendah hati

Sikap dasar yang harus dimiliki oleh setiap pelayan Tuhan adalah kerendahan hati. Orang yang rendah hati menyadari bahwa ia tergantung sepenuhnya pada Allah. Oleh karena itulah, kerendahan hati memberi suatu kekuatan yang besar karena orang menyadari bahwa segala-galanya berasal dari Allah, sebagaimana Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Orang yang rendah hati merasa tidak memiliki apa-apa, sehingga ia berani melangkah tanpa khawatir akan kehilangan sesuatu. Sebaliknya, orang yang sombong mengkhawatirkan gengsinya, takut kehilangan harga diri, takut salah/gagal, takut disepelekan orang lain, dan lain-lain.

 

d. Dasar Pelayanan

Kita perlu meletakkan dasar yang benar dan kokoh dalam pelayanan kita. Seandainya kita ini dipanggil untuk menyirami tanam-tanaman di ladang Tuhan, kita harus menggali sumur yang airnya tidak akan habis. Jika kita hanya mengandalkan cadangan/simpanan air kita saja, dengan segera kita akan kehabisan air dan tidak dapat lagi menyiram. Demikianlah dalam pelayanan, kita harus menggali dan sumber utama kita, yaitu Kristus. Semakin kita dipanggil dalam pelayanan, semakin kita harus menggali dan memperdalam hubungan kita dengan Kristus. Pelayanan kita menjadi kering apabila tidak bersumber pada Kristus. Jikalau kita tidak menggali dan memperdalam hubungan pribadi kita dengan Kristus, kita tidak akan dapat turut menghantar orang lain pada perjumpaan dengan Yesus.

Kasih kepada Kristus, yang mendasari pelayanan kita, juga harus makin mendalam. Kalau pertama-tama kita mau melayani karena takut, sekarang berkembang menjadi karena terdorong oleh rasa syukur, dan selanjutnya hubungan kasih kita dengan Kristus haruslah menjadi seperti suatu hubungan kasih antara laki-laki dan wanita yang saling membutuhkan, sehingga Kristus betul-betul menguasai hidup kita dan kita tidak bisa hidup tanpa Kristus. Hubungan yang mendalam inilah yang menjiwai segala-galanya dan inilah dasar yang kuat dan benar dalam pelayanan kita.


 

MODEL PELAYANAN YANG BENAR

Model pelayanan kita adalah pelayanan Yesus sendiri karena kita adalah murid-murid Kristus. Kita harus merasa seperti Yesus, berpikir seperti Yesus, mencintai dan melayani seperti Yesus. Oleh karena itu, Paulus berkata dalam Flp.2:5-8, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang hams dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Beberapa sikap Yesus dalam melayani, yang harus juga menjadi sikap dasar para pengikut-Nya dalam melayani adalah sebagai berikut:


1. Yesus senantiasa hanya mencari kehendak Allah

Sebagaimana Yesus hanya mau mencari kehendak Allah dalam melayani, demikianlah juga seharusnya kita para pengikut-Nya. Yesus berkata dalam Yoh.4:34, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan-Nya.”

Mencari kehendak Allah tidak mudah karena tidak selalu jelas, namun kita harus secara terus menerus berusaha mencari apa yang menjadi kehendak-Nya agar pelayanan kita dapat selalu berdasarkan kehendak-Nya. Kita bisa mengetahui kehendak Allah melalui Kitab Suci, pembimbing rohani, peristiwa-peristiwa tertentu atau dorongan tertentu. Agar bisa lebih peka mengenali kehendak Allah, diperlukan pembaruan dalam cara berpikir, tindakan dan seluruh kepribadian kita, yang hanya dimungkinkan oleh kuasa Roh Kudus

 

2. Yesus melayani bukan demi kemuliaan-Nya sendiri, melainkan demi kemuliaan Allah

Pekerjaan yang harus kita lakukan adalah pekerjaan Allah sendiri, yang dari hakikatnya melampaui segala kekuatan kita. Untuk itu, Kristus telah membekali kita dengan kuasa-Nya yang telah diterima-Nya dari Bapa. (lht. Yoh.14:12).

Kuasa Allah itu, yang dari dirinya sendiri adalah baik, mudah diselewengkan. Orang mudah tergoda untuk menjadi sombong, berbangga-bangga secara sia-sia, mencari kemuliaan diri sendiri. Padahal kita tahu bahwa Yesus, walaupun Mahakuasa, telah merendahkan diri-Nya sebagai manusia lemah. Meskipun banyak sekali mukjizat yang telah dilakukan-Nya, Dia tidak pernah membanggakan diri atas semuanya itu. Sebaliknya, dalam segala hal, Ia hanya memuliakan Bapa dan bukan diri-Nya sendiri.

Mengapa Yesus tidak mencari kemuliaan-Nya sendiri? Pertama, karena Ia menyadari bahwa Bapa sungguh-sungguh mengasihi Dia. Itulah segala-galanya bagi Dia. Kedua, karena Ia menyadari dan menerima sepenuhnya ketergantungan-Nya yang mutlak kepada Bapa. Terakhir, karena Ia sadar sepenuhnya bahwa Ia berharga di mata Bapa dan dikasihi Bapa, sehingga Ia tidak membutuhkan peneguhan kepastian dari pihak lain. Kasih Bapa sudah lebih dari cukup bagi-Nya.

Bila Allah melakukan pekerjaan-Nya melalui kita, hendaklah kita tidak terbuai karena sesungguhnya kita hanyalah keledai yang ditunggangi Yesus. Orang tidak menghormati keledai, melainkan Yesus yang menunggangi keledai itu. Janganlah berbangga atas diri sendiri apabila kita telah melayani karena itu sudah sepatutnya bagi pengikut Kristus. Hal ini diajarkan oleh Yesus dalam Luk.17:10, “Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”


 

3. Yesus lalu menampilkan wajah Allah, Bapa-Nya dalam pelayanan-Nya

Apa yang dilakukan Kristus adalah ungkapan dari apa yang dilakukan oleh Bapa, sehingga kita bisa melihat Allah dalam diri Yesus. Yesus datang ke dunia untuk membawa apa saja yang ada pada Allah (bdk. Yes.61:1-2).

Setiap kali Yesus menyembuhkan, memberi makan, mengampuni, menghibur dan membuat tanda-tanda, sebenarnya Allah Bapa sendirilah yang melakukan semua itu di dalam Kristus (Yoh.8:28). Oleh karena itu, Rasul Petrus meringkas hidup dan pelayanan Kristus seperti tertulis dalam Kis.10:38, “…yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa. Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai iblis, sebab Allah menyertai Dia.”

Segala sesuatu yang dilakukan Yesus sungguh berkenan kepada Allah. Hal ini jelas tertulis dalam Yoh.8:29, “Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”
Sebagaimana Yesus sepanjang hidup dan pelayanan-Nya di depan publik selalu menampilkan wajah Allah Bapa-Nya, demikian jugalah seharusnya kita para pengikut Kristus.

 

4. Yesus berani taat dan rela menderita


GODAAN PERPECAHAN DALAM GEREJA

Kerinduan hati Yesus yang terdalam sebagaimana kita ketahui dari doa-Nya bagi semua orang yang percaya dalam Yoh.17:21-23, “…supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepadaKu, supaya mereka menjadi satu, sama seperti kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu…”

Yesus berdoa secara khusus bagi para murid-murid-Nya, bagi semua orang yang percaya dan bagi semua orang yang melayani-Nya secara khusus. Doa Yesus ini disertai dengan kebijaksanaan dan cinta yang tidak terbatas sebab Ia mengerti bahwa mereka yang sungguh-sungguh mau melayani-Nya dengan hati murni dan tulus akan senantiasa mengalami hambatan. Si iblis akan berusaha sekuat tenaga untuk menggagalkan karya Allah dengan menggoda orang-orang yang dipakai Tuhan. Bila tidak bisa membawa orang-orang yang melayani Tuhan jatuh dalam dosa, iblis akan berusaha menentang dan memusuhi mereka melalui tangan-tangan orang lain yang terbuka terhadap bisikannya. Pertentangan atau permusuhan ini bisa saja timbul dari kalangan biasa maupun penguasa, dari umat beriman maupun pimpinan. Tak jarang terjadi bahwa perlawanan yang paling hebat justru datangnya dari orang-orang yang menurut jabatannya seharusnya melindungi karya Allah.

Perlawanan dan penganiayaan semacam itu dialami oleh setiap pembaruan yang oten tik. Pembaharuan besar dalam Gereja yang diupayakan oleh para Fransiskan dan Dominikan pada abad XIII mendapat reaksi negatif yang hebat dari kalangan hirarki, para imam dan uskup-uskup tertentu. Pada abad XVII, reformasi S. Teresa Avila yang mempunyai dampak besar sekali bagi Gereja mendapat tantangan hebat, sehingga Teresa dan Yohanes Salib harus menanggung banyak sekali aniaya dan kesengsaraan. Sejarah membuktikan bahwa motivasi utama dari perlawanan itu adalah iri hati dan kepentingan/ambisi pribadi.

Dewasa ini, Pembaruan Karismatik mengalami hambatan dan pertentangan di mana-mana meskipun telah memperoleh dukungan dari pimpinan Gereja, yaitu Sri Paus dan konferensi para uskup. Situasi ini memang berbeda dari zaman para Fransiskan dan Teresa, namun ada juga persamaannya. Kali ini pembaruan itu menyangkut seluruh lapisan umat dalam Gereja dan tersebar luas di kalangan umat. Tantangannya sama, yaitu iblis yang tidak senang dengan semua itu, sehingga ia membangkitkan perlawanan di mana-mana. Melihat teladan pendahulu kita dan belajar dari sejarah, dalam situasi yang sukar kita harus tetap setia dan taat. Kesetiaan dan ketaatan membutuhkan kedewasaan iman. Orang yang sungguh beriman akan taat kepada Yesus sendiri, yang adalah Kepala Gereja-Nya, di dalam diri para wakil-wakil-Nya, yaitu para pemimpin Gereja. Semangat untuk selalu setia dan taat telah ditunjukkan oleh Yesus sendiri dalam ketaatan-Nya kepada Bapa sampai wafat di kayu salib. Jadi bila kita mau mengikuti Kristus, kita juga harus meneladani ketaatan Kristus. Bila kita tetap setia dan taat, Tuhan akan memberkati kesetiaan itu dengan rahmat yang berlimpah-limpah.

Cara iblis yang paling ampuh untuk memecah-belah Pembaruan Karismatik adalah dengan berusaha menghancurkan pembaruan itu dari dalam. Iblis selalu berusaha menimbulkan perpecahan, permusuhan, iri hati dan persaingan tidak sehat diantara para pemimpin Karismatik sendiri. Inilah senjata yang paling ampuh untuk menghancurkan pembaruan itu sendiri.

Perpecahan dalam Pembaruan Karismatik paling sering diakibatkan oleh godaan kekuasaan. Orang-orang yang terlibat dalam Pembaruan Karismatik rawan sekali terhadap hal ini karena setelah mengalami pencurahan dan menerima kuasa Roh Kudus, orang bisa saja, kalau tidak waspada, menggunakan kuasa itu untuk kepentingan sendiri.


 

SEBAB-SEBAB TIMBULNYA PERPECAHAN

Kita perlu melihat hal-hal yang biasanya menimbulkan perpecahan agar kita bisa lebih waspada dan dapat menjaga kesatuan dalam komunitas kita, dalam lingkungan yang lebih luas dan akhirnya dalam tubuh Kristus sendiri yaitu Gereja Kudus-Nya.


1. Iri hati, dengki dan rasa superioritas

Seringkali kita melihat penyakit ini pada diri para senior yang tidak dapat menerima keunggulan orang yang masih lebih muda atau masih baru. Ada ketakutan dalam diri orang-orang tertentu kalau orang lain lebih daripada dirinya sendiri.

 

2. Dendam dan tidak saling mengampuni

 Permasalahan dalam kelompok pasti selalu ada, namun yang penting, setiap kali ada perselisihan, ketidakcocokan pendapat dan perasaan negatif terhadap satu sama lain, harus segera diselesaikan dengan berdamai.

Perdamaian dapat terjadi jika salah satu pihak meminta maaf dan yang lain memaafkan. Cara meminta maaf harus benar, yaitu secara langsung, tanpa suatu upaya pembenaran diri dan tanpa menyalahkan pihak lain. Pihak yang menerima permintaan maaf harus menerima dan memaafkan dengan sungguh-sungguh.

Jika ada kesulitan menentukan pihak mana yang harus meminta maaf dulu, maka hendaklah diingat bahwa pihak yang mulai meminta maaf adalah mereka yang merasa diri Kristen.

 

3. Lidah yang tajam

Seringkali kita saling menyakiti dengan lidah, antara lain dengan menceritakan keburukan keluarga, sahabat atau kenalan kita, entah hal itu benar atau tidak, hanya karena kita menuruti keinginan kita yang tidak teratur atau pun karena suatu tujuan untuk menjatuhkan orang tersebut.

Firman Tuhan dalam Yak.1:26 mengajarkan kita untuk mengekang lidah, “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” Kita harus mengekang lidah supaya jangan sampai kita menjadi alat iblis untuk memecah-belah umat Allah melalui segala perkataan yang menyakitkan, fitnah, dusta dan lain-lain.


KUASA MELAYANI DALAM KESATUAN

Perpecahan dalam Gereja dan dalam Pembaruan Karismatik akan menimbulkan kelemahan. Sebaliknya, kalau umat Allah bersatu-padu dengan menyatukan segala kemampuan, ia (umat Allah) akan merupakan suatu laskar yang sangat besar dan kuat untuk menyikat habis kuasa neraka. Kesatuan umat Allah inilah yang paling ditakuti iblis, sehingga iblis terus-menerus berusaha memecah-belah Gereja-Nya melalui macam-macam cara.

Allah Tritunggal selalu merupakan kesatuan antara Bapa, Putra dan Roh Kudus yang tergantung satu sama lain. Yesus tergantung kepada Bapa-Nya, demikian juga Bapa dan Roh Kudus. Murid-murid tergantung kepada Yesus dan saling tergantung satu sama lain. Gereja didirikan oleh Yesus sebagai suatu struktur di mana ada Bapa Paus sebagai wakil Kristus yang menjadi kepala, sehingga setiap anggota Gereja mempunyai keterikatan satu sama lain di bawah satu pimpinan. Gereja yang bersatu dengan sungguh-sungguh mempunyai kuasa karena:

1. Kesatuan para pengikut Kristus adalah tanda bagi dunia bahwa Yesus benar-benar diutus Allah. Tidak mungkin ada kuasa untuk mempersatukan umat yang sedemikian besar, kalau bukan dari Allah sendiri.

2. Kesatuan para pengikut Kristus menghasilkan kekuatan besar. Kita tidak dapat bertahan kalau tidak bersatu karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap, melawan roh- roh jahat di udara sebagaimana dituliskan S. Paulus dalam Ef.6:12. Tepatlah pepatah, “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.”

Kita menyadari memang tidak mudah menciptakan suatu umat Allah yang betul-betul bersatu secara utuh, namun doa Yesus bagi semua orang yang percaya dalam nama-Nya, yaitu supaya kita semua menjadi satu sama seperti Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah satu, merupakan suatu jaminan bahwa kesatuan para pengikut Kristus, umat Allah dapat benar-benar terwujud.

 

PENUTUP

Janji Yesus kepada kita, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya (Yoh.15:7). Jika kita selalu menuruti kehendak Allah dan selalu berada dalam kehendak-Nya, maka kita dapat meminta apa saja dengan penuh keyakinan dan kita akan menerimanya.

Jika kita semakin bersatu dengan Kristus, kita juga semakin dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan. Inilah rahasia keberhasilan pelayanan kita dalam kuasa Roh Kudus-Nya. (Tulisan ini disusun berdasarkan kaset pengarahan Romo Yohanes Indrakusuma, CSE)