Print
Hits: 18226

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Dalam keadaan yang baru, “hidup oleh Roh”, manusia dimampukan untuk berkembang dalam kehidupannya dan hal ini ditandai dengan adanya buah Roh Kudus dalam diri mereka. Paulus berkata: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22-23). Bila diperhatikan dengan lebih teliti, Paulus menyebut ‘buah’ (karpos, dalam bentuk tunggal; bukan ‘buah-buah’). Ini menunjukkan bahwa ‘buah Roh’ meskipun ada sembilan macam, tetap merupakan satu kesatuan. Penggunaan kata ini juga mengatakan bahwa buah roh merupakan akibat langsung dari kehadiran Roh Kudus dalam diri orang beriman. Pengertian masing-masing buah Roh akan ditampilkan secara singkat berikut ini.

Kasih (agape)

Sudah sepantasnya bila “kasih” mengawali daftar kebajikan ini. Hal ini karena kasih merupakan tujuan dari kemerdekaan yang diberikan kepada manusia. Sebagaimana yang Paulus tegaskan: “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (Gal 5:13). Kasih juga adalah “pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol 3:14) yang mengikat semua kebajikan yang didaftar dalam Kol.3:12 (belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran). Kasih adalah rahmat yang mengatasi semua rahmat rohani bahkan lebih besar dari pada iman dan harapan (bdk. 1 Kor 13:13). Kasih juga merupakan sifat Allah Bapa dan Kristus (bdk. Gal 2:20; Ef 5:2; 2 Tes 2:16).

Kasih Allah yang besar ini (bdk. Ef 2:4-7) sesungguhnya tidak layak diberikan kepada manusia (Rm 5:8). Namun berkat perantaraan Roh Kudus, manusia dapat mengalami kasih ini dalam hati mereka dan tidak ada yang dapat memisahkan mereka dari kasih Allah ini, yang sekaligus adalah kasih Kristus (Rm 8:35-39). Dalam kasih Allah yang tak terpahami inilah seharusnya kehidupan kristiani dijiwai (2 Kor 5:14).

Kasih kristiani juga dibedakan dari kasih duniawi, dimana kasih duniawi lebih memusatkan perhatiannya pada kesenangan, sedangkan kasih kristiani memusatkan perhatiannya pada penderitaan. Penderitaan ini mengacu pada penderitaan Kristus sebagai tanda kasih-Nya kepada manusia. Dalam pengertian ini, kasih kristiani bermodelkan pada kasih Kristus kepada manusia.

William Barclay memberikan komentarnya tentang bagaimana kasih yang dimaksud dalam kehidupan praktis:

“Kasih (agape) adalah istilah Kristen yang berarti kebajikan yang tak dapat dilawan. Apapun yang diperbuat orang atas diri kita, entah itu cacimaki, sakit hati ataupun penghinaan, kita akan tetap berbuat hal-hal yang terbaik baginya. Jadi kasih adalah segala sesuatu yang tidak hanya menyangkut perasaan tetapi juga kemauan; tidak hanya mengena pada hati tetapi juga pada pikiran. Jelasnya, kasih adalah upaya yang sengaja kita lakukan tanpa ada maksud jahat, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang lain yang mungkin bermaksud jahat pada kita. Usaha ini hanya dapat dicapai dengan campur tangan Allah saja.”

Sukacita (khara)

Dalam konteks ini, sukacita tidak diartikan secara duniawi, yaitu sebagai kebahagiaan manusiawi, tetapi diartikan sebagai suatu anugerah yang berdasarkan pada Allah saja. Paulus berkali-kali menegaskan supaya orang-orang beriman “bersukacitalah dalam Tuhan” (Flp 3:1; 4:4; bdk 2 Kor 13:11). Sukacita ini adalah “sukacita dalam iman” (Flp 1:25) yang diberikan oleh Allah bersama dengan damai sejahtera dalam kehidupan kristiani (Rm 15:13). Sukacita ini juga berdasarkan pada pengharapan yang mengalir dari iman (Rm 12:12). Kemudian sebagai aspek dari “buah Roh”, sukacita juga disebut berasal dari Roh Kudus (Rm 14:17) dan diinspirasikan oleh Roh Kudus (1 Tes 1:6). Oleh karena itu, Paulus menyatakan bahwa sukacita berasal Tuhan (Kristus), Allah, dan Roh Kudus. Anugerah sukacita bukan berasal dari manusia tetapi berasal dari Yang Ilahi, maka sukacita kristiani tidak gentar oleh penderitaan dan pencobaan dan malahan memberikan bukti akan kuasanya di tengah-tengah semuanya itu (2 Kor 6:10; 8:2; 1 Tes 1:6).

Paulus sendiri juga mewujudkan kehidupan yang penuh sukacita. Meskipun pada saatnya ia akan mengalami keadaaan yang menyusahkan di Roma, ia tetap bersukacita karena Kristus diberitakan (Flp 1:15-18). Ia bersukacita dalam penderitaannya untuk jemaat (Kol 1:24) dan sekalipun darahnya dicurahkan pada korban dan ibadah iman jemaat (Flp 2:17). Ia bersukacita atas jemaat di Filipi dan Tesalonika (Flp 4:1; 1 Tes 2:19). Ia bersukacita atas jemaat Roma karena kabar akan ketaatan mereka pada Injil (Rm 16:19), atas jemaat di Kolose karena ketertiban hidup mereka dan keteguhan iman mereka dalam Kristus (Kol 2:5), dan atas jemaat di Korintus karena pertobatan dan penghiburan mereka (2 Kor.7:7-9). Ia pun bersukacita atas perhatian dan pertolongan jemaat kepadanya (2 Kor 7:7; Flp 4:10;). Paulus adalah rasul sukacita yang tidak hanya meminta umatnya untuk senantiasa bersukacita (1 Tes 5:16) tetapi juga bersukacita dengan orang yang bersukacita (Rm 12:15).

Gordon D. Fee berpendapat bahwa kehadiran dan ketidak-hadiran sukacita tidak dihubungkan dengan keadaan seseorang. Sukacita yang dimaksudkan di sini lebih dihubungkan dengan sukacita atas apa yang telah dilakukan Allah kepada manusia dalam Yesus Kristus dan melalui Roh Kudus.

Damai sejahtera (eirene)

Dalam bahasa Yunani sehari-hari pada masa itu, kata ini dipakai dengan dua kegunaan yang menarik. Kata ini digunakan untuk ketentraman yang dinikmati oleh sesuatu negara karena berlakunya keadilan dan kemakmuran di bawah pemerintahan kepala negara yang bijaksana. Kata ini juga digunakan untuk tata tertib yang berlaku dan terpelihara dalam suatu kota atau desa.

Berkaitan dengan buah roh, damai sejahtera di sini tidak hanya berarti keadaan tidak adanya perang dan masalah, tetapi lebih berarti keutuhan, kesehatan, dan kemakmuran. Dalam surat-surat Paulus, kata ini kerap muncul dalam salam pembukaan dan ucapan syukur, dimana Allah (dengan Yesus) diidentifikasikan sebagai sumber dari damai sejahtera. Paulus juga berbicara tentang “Allah damai sejahtera” (Rm 15:33; 16:20; 2 Kor 13:11; Flp 4:9; 1 Tes 5:23) dan menunjuk Yesus sebagai “Tuhan damai sejahtera” (2 Tes 3:16). Lalu sebagai lawan dari kekacauan dan kebingungan, damai sejahtera merupakan keadaan yang sesuai dengan kehendak Allah (1 Kor 14:33). Pewartaan juga disebut  “Injil damai sejahtera” (Ef 6:15), karena di dalamnya diwartakan keselamatan eskatologis seluruh manusia (1 Tes 5:23). Damai sejahtera dalam pengertian ini bersandar pada karya Kristus dalam pendamaian: melalui darah salib-Nya (Kol 1:20), Kristus telah “membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuan” (Ef 2:15). Dengan pendamaian ini, pertama, menjadikan manusia mampu untuk “hidup dalam damai sejahtera dengan Allah” (Rm 5:1) dan, kedua, orang Yahudi dan orang tak bersunat di damai satu sama lain, malahan dijadikan “satu manusia baru di dalam diri-Nya” (Ef 2:14-17).

Dalam Gereja, orang-orang beriman hendaknya “berusaha memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (Ef 4:3) karena inilah yang menjadi tujuan Kristus memanggil mereka menjadi anggota Gereja dan damai sejahtera ini hendaknya juga menguasai hati mereka serta berperan sebagai pendamai dalam komunitas (Kol 3:15). Kerukunan semacam ini adalah karakter dari kerajaan Allah (Rm 14:17) dan norma untuk hubungan perkawinan (1 Kor 7:15). Paulus mengimbau kepada orang beriman di Roma untuk “mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (Rm 14:19); damai sejahtera juga merupakan salah satu yang harus dikejar dalam nasihatnya kepada Timotius (2 Tim 2:22). Dalam Gal 5:22, damai sejahtera secara khusus mengacu pada kerukunan dalam relasi antar sesama, tetapi hal ini akan menjadi tidak tepat bila dipisahkan dari artinya sebagai damai sejahtera sebagai hasil dari relasi yang benar dengan Allah dan direfleksikan dalam kerukunan dengan sesama manusia. Dalam konteks yang demikian, damai sejahtera di sini berarti ketenangan hati yang semata-mata bersumber pada kesadaran bahwa seluruh kehidupan manusia ada di tangan Allah.

Kesabaran (makrothumia)

Kesabaran pertama-tama merupakan sifat Allah (bdk. Kel 34:6). Paulus memandang dirinya sebagai obyek kesabaran sempurna Kristus sehingga dengan hal ini ia dapat “menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal” (1 Tim 1:16). Dalam surat-surat Paulus, kesabaran  di sini bukan berarti sabar terhadap benda-benda atau kejadian-kejadian, tetapi selalu digunakan dalam konteks sabar terhadap orang lain. Kesabaran juga merupakan sisi pasif kasih, sedangkan kebaikan adalah sisi aktif dari kasih. Kemudian dalam Rm 2:4, Paulus berbicara tentang “kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya.” Bila dibandingkan dengan “kemurahan Allah” pada bagian akhir ayat ini maka kesabaran dapat diartikan sebagai anggota dari suatu kelompok kebajikan; kesabaran Allah terkandung dalam kemurahan dan kelapangan hati. Kesabaran ini dimaksudkan untuk menuntun manusia pada pertobatan. Jika Allah “menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan” hal itu karena Ia memilih “untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya” (Rm 9:22).

Kesabaran Allah kepada manusia merupakan dasar dan alasan bagi kesabaran orang beriman terhadap sesamanya. Mereka harus mengenakan kesabaran sebagai “pakaian” orang-orang yang dikasihi dan dipilih oleh Allah (bdk. Kol 3:12) dan untuk menunjukkan kesabaran tidak hanya dalam relasi mereka dengan orang beriman lainnya tetapi juga “terhadap semua orang” (1 Tes 5:14). Kesabaran juga adalah salah satu sifat pelayan Allah (2 Kor 6:6). Timotius pun telah mengikuti contoh dari Paulus ini (2 Tim 3:10) dan Paulus pun menegaskan padanya untuk senantiasa dalam kesabaran dan pengajaran (2 Tim.4:2).

Dalam doa Paulus kepada jemaat di Kolose (Kol 1:11), kesabaran digunakan bersama dengan tekun. Sesungguhnya kedua istilah ini mempunyai perbedaan. Tekun berarti kemampuan untuk bertahan dalam tekanan dalam situasi yang sulit, sedangkan kesabaran berarti sikap sabar terhadap orang lain, menangguhkan kemarahan di bawah hasutan, dan menolak untuk mengikuti tindakan salah seseorang.  Perbedaan ini  juga muncul dalam 2 Kor 6:4, 6 meskipun tidak secara tegas.

Kemurahan (khrestotes)

Dalam Perjanjian Baru, kata ini hanya ditemukan dalam surat-surat Paulus. Bila dikenakan pada Allah, kata ini menunjukkan pada kemurahan-Nya pada para pendosa. Dalam kemurahan Allah juga terkandung kesabaran-Nya dalam menantikan pertobatan para pendosa (bdk. Rm 2:4). Keselamatan juga merupakan manifestasi dari kemurahan Alah ini dan juga merupakan “kasih-Nya kepada manusia” (Tit 3:4-5). Kemurahan Allah ini dinyatakan kepada manusia melalui Yesus Kristus (bdk. Ef 2:7). Kemudian Paulus juga berpendapat bahwa kemurahan Allah dan kekerasan-Nya saling bertentangan tetapi juga sekaligus berhubungan satu sama lain. Kepada orang yang tidak mau bertobat Allah menunjukkan kekerasan-Nya, namun kepada orang yang mau bertobat Allah menunjukkan kemurahan-Nya (bdk. Rm 11:22).

Sebagai yang telah mengalami kemurahan keselamatan Allah dalam Yesus Kristus, orang beriman harus mengenakan kemurahan dalam diri mereka (Kol 3:12) dan  “ramah seorang terhadap yang lain” (Ef 4:32). Kemurahan juga merupakan salah satu sifat yang dikenakan Paulus bagi pelayan Allah (2 Kor 6:6). Selain itu, kemurahan merupakan unsur kasih (1 Kor 13:4) dan harus tampak dalam perbuatan; mereka yang murah hati memperlakukan orang lain sama seperti Allah telah memperlakukan mereka (Ef 4:32).
Kebaikan (agathosune)

Kebaikan diartikan sebagai sifat manusia yang baik dan juga sebagai salah satu sifat moral yang baik. Tetapi mungkin cara terbaik untuk mendapat arti dari kata ini ialah dengan mengadakan perbandingan antara dua kata yang sering disebut secara bersama-sama dengan kebaikan. Pertama, dalam Ef 5:9 kebaikan muncul bersama dengan kebenaran dan dalam Rm 5:7 terdapat pertentangan antara orang benar dan orang baik. Dari ayat-ayat ini dapat dilihat bahwa kebaikan adalah sikap baik terhadap orang lain. Kedua, pertentangan antara kebaikan (goodness) tuan rumah dan “iri hati” (evil eyes) para pekerja kebun anggur dalam perumpamaan tentang pekerja kebun anggur (Mat 20:15) menunjukkan bahwa dalam sikap “iri hati” juga mengandung sikap dendam. Sementara itu, kebaikan juga dapat diartikan sebagai sikap murah hati. Karena itu dapat disimpulkan bahwa “kebaikan” dalam Gal 5:22 mewakili kebaikan dalam arti murah hati dan ini juga dapat merupakan lawan dari iri hati.

Kebaikan tidak lepas dari aktivitasnya yang konkret. Kebaikan dalam konteks ini merupakan rahmat Allah dan bertumbuh dalam kehidupan orang beriman melalui Roh Kudus. Mereka yang “menabur dalam Roh” adalah mereka yang “berbuat baik kepada semua orang” (Gal 6:8-10).

Kesetiaan (pistis)

Paulus beberapa kali menghubungkan kata ini dengan “percaya” (Gal 3:9; 2 Kor 6:15), tetapi umumnya kata ini digunakan untuk orang yang setia. Ia menyebutkan beberapa pendapat tentang kesetiaan ini:

1.  Kesetiaan merupakan sifat yang perlu bagi para pelayan, guru, istri (1 Kor 4:2; 2 Tim 2:2; 1 Tim 3:11).

2.  Paulus sendiri adalah orang yang “dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah” (1 Kor 7:25); ia bersyukur karena Allah telah  menganggapnya setia dan mempercayakan pelayanan Injil kepadanya (1 Tim 1:12).

3.  Beberapa orang disebut oleh Paulus sebagai orang yang setia: Timotius (1 Kor 4:17), Tikhikus (Ef 6:21; Kol 4:7), Epafras (Kol 1:7), dan Onesimus (Kol 4:9).

4.  Paulus menampilkan Yesus Kristus sebagai contoh teladan dalam kesetiaan (2 Tes 3:3).

5.  Allah adalah setia (1 Kor 1:9; 10:13; 2 Kor 1:18; 1 Tes 5:24; 2 Tim 2:13), perkataan dan ajaran Injil dapat dipercaya (1 Tim 1:15; 3:1; 4:9; 2 Tim 2:11; Tit 1:9; 3:8). Yesus berulang-ulang meminta para murid-Nya untuk memiliki kesetiaan sebagaimana beberapa kali ditampilkan dalam perumpamaan-perumpamaan yang diceriterakan-Nya (Mat 25:14-30; Luk 12:35-48; 16:10; 19:11-27). Maka kesetiaan berarti sifat setia, yang dapat digambarkan dengan seseorang yang dapat dipercaya, dengan kesetiaan yang dapat dipercaya, dan dengan kata-kata yang dapat diterima. Namun bila kata ini dihubungkan dengan Allah, hal ini menggambarkan seseorang yang teguh dalam iman kepada Yesus Kristus dan sekaligus sungguh-sungguh berserah pada Allah.

Kelemahlembutan (praotes)

Dalam bahasa Yunani, orang yang lemah lembut berarti orang yang kekuatan dan kelemahlembutannya berjalan beriringan. Sedangkan dalam Septuaginta, kelemahlembutan biasanya menunjuk pada sikap rendah hati terhadap rencana Allah. Lalu dalam Perjanjian Baru, kelemahlembutan dihubungkan dengan kasih (1 Kor 4:12), kesabaran (2 Kor 10:1; Tit 3:2), sabar dan rendah hati (Ef 4:2; Kol 3:12), dan ramah yang merupakan kemampuan untuk menghindari pertengkaran (Tit 3:2). Dalam 1 Kor.4:2, kelemahlembutan dipertentangkan dengan cambuk, yang merupakan lambang penghakiman.

Lemah lembut adalah roh yang mau mengkoreksi kesalahan saudara yang lain (Gal 6:1) dan salah satu sifat hamba Tuhan (2 Tim 2:25). Kelemahlembutan ini harus meresapi seluruh kehidupan kristiani (bdk. Yak 3:13; 1 Pet 3:4) sebagaimana juga meresapi kehidupan Kristus (Mat 11:29; 21:5; 2 Kor 10:1). Lemah lembut ini juga mempunyai arti pengendalian diri yang hanya dapat diberikan oleh Kristus saja.
Penguasaan diri (enkrateia)

Dalam bahasa Yunani sehari-hari, kata enkrateia dipakai untuk mengungkapkan kebajikan seorang kaisar yang tidak pernah membiarkan kepentingan pribadinya mempengaruhi jalannya pemerintahan atas rakyatnya. Kebajikan itulah yang membuat orang mampu mengendalikan diri, sehingga ia pantas untuk menjadi pelayan sesamanya. Dalam Kitab Suci, karakter ini tidak dikenakan pada Allah tetapi lebih pada diri manusia secara pribadi.

Penguasaan diri juga merupakan bagian dari disiplin yang keras untuk setiap atlet, tidak  hanya untuk ‘atlet’ rohani (1 Kor 9:25) dan juga merupakan salah satu sifat yang diperlukan bagi penilik jemaat (Tit 1:8). Paulus pun menyarankan pada orang-orang yang tidak menikah atau para janda yang tidak dapat menguasai diri untuk menikah (1 Kor 7:9).

Tetapi dari semuanya itu, penguasaan diri yang diperintahkan oleh Paulus tidak mempunyai kadar asketis. Ia sendiri tidak melakukan penguasaan diri demi penguasaan diri itu sendiri (in se), tetapi demi menyingkirkan semua halangan yang mencegahnya untuk mencapai tujuan (1 Kor 9:25-27).