User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 Di Tahun 2009 ini, Bapa Suci Benediktus XVI kembali menyampaikan pesan Natalnya bagi umat Katolik di seluruh dunia. Kali ini Bapa Suci menyampaikan pesan tentang Urbi Et Orbi, suatu terang yang berbeda dan istimewa, terang yang diarahkan dan berpusat kepada “kita”, yaitu Gereja, keluarga universal besar dari mereka yang percaya kepada Kristus, yang dengan penuh harapan telah menantikan kelahiran Penyelamat. Apa isi dari pesan Bapa Suci Benediktus XVI ini?

 

Saudara dan Saudari terkasih di Roma dan di seluruh dunia, dan semua pria dan wanita yang dicintai Tuhan!



Lux fulgebit hodie super nos,

quia natus est nobis Dominus.


Terang akan menyinari kita hari ini,

Tuhan telah lahir untuk kita

(Missale Romanum, Natal, Antifon Pembukaan, Misa Pagi)




Liturgi Misa Pagi mengingatkan kita bahwa malam telah berlalu, hari telah tiba; cahaya yang memancar dari gua Betlehem telah menyinari kita.

Kitab Suci dan Liturgi, tidak berbicara kepada kita tentang terang alamiah, melainkan suatu terang yang berbeda dan istimewa, terang yang diarahkan dan berpusat kepada “kita”, “kita” yang sama yang bagi “kita” Anak Betlehem “telah lahir”. “Kita” ini adalah Gereja, keluarga universal besar dari mereka yang percaya kepada Kristus, yang dengan penuh harapan telah menantikan kelahiran Penyelamat, dan yang hari ini dalam misteri merayakan dampak penting abadi dari peristiwa ini.

Pada mulanya, “kita” ini nyaris tidak dapat dilihat oleh mata manusia di samping kandang Betlehem. Sebagaimana dicatat oleh Injil dari Santo Lukas, yang mencatat bahwa selain Maria dan Yoseph, hanya ada sejumlah gembala yang datang ke gua setelah mendengar pesan para Malaikat. Terang Natal pertama itu seperti sepercik api di tengah malam. Semuanya gelap, sementara di gua bersinar terang sejati “yang menerangi semua orang” (Yoh 1:9). Namun semua ini terjadi dalam kesederhanaan dan ketersembunyian, suatu cara yang digunakan Allah untuk berkarya dalam keseluruhan sejarah keselamatan. Cinta Allah menyalakan terang-terang kecil, sehingga terang itu dapat menyinari ruang yang besar. Kebenaran dan Cinta adalah isi dari terang itu, yang menyala dimanapun terang itu disambut; kemudian terang itu menyala ke ruang disekitarnya, dan seolah-olah melalui persentuhan, dalam hati dan pikiran semua orang yang dengan membuka dirinya kepada keagungan terang itu, mereka sendiri juga menjadi sumber terang. Begitulah sejarah Gereja dimulai: ia memulai perjalanannya di gua hina di Betlehem, dan melewati rentang beradab-abad Gerea menjadi suatu masyarakat dan menjadi sumber terang bagi kemanusiaan. Hari ini juga, dalam mereka yang menjumpai Anak itu, masih memancar api di tengah malam dunia, yang memanggil pria dan wanita di mana-mana untuk mengakui dalam Yesus “tanda” kehadiran-Nya yang menyelamatkan dan membebaskan dan untuk meluaskan “kita” yang percaya kepada Kristus kepada seluruh umat manusia.

Di mana pun ada “kita” yang menyambut cinta Allah, di sanalah terang Kristus bersinar, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Gereja, seperti halnya Perawan Maria, menawarkan Yesus kepada dunia, sang Putera, Dia yang datang untuk membebaskan umat manusia dari perbudakan dosa, yang telah diterima oleh Perawan Maria dan Gereja sebagai suatu anugerah. Seperti halnya Maria, Gereja juga tidak takut, karena Anak itu adalah kekuatannya. Tetapi dia tidak menyimpan Anak itu untuk dirinya sendiri: dia membawa Anak itu kepada mereka semua yang mencari-Nya dengan tulus hati, kepada mereka yang dipandang rendah oleh dunia dan yang terluka, kepada para korban kekerasan, kepada mereka semua yang mencari kedamaian. Hari ini juga di antara keluarga umat manusia ada mereka yang secara mendalam menderita karena krisis finasial, dan lebih lagi oleh krisis moral, dan oleh luka yang menyakitkan akibat perang dan konflik, Gereja, dalam kesetiakawanan dengan seluruh manusia, mengulangi bersama kata-kata para gembala: “Mari kita pergi ke Betlehem” (Luk 2: 15); di sanalah kita akan menemukan harapan kita.

“Kita” dari Gereja hidup di tempat di mana Yesus lahir, di Tanah Suci, dan mengundang para penduduknya untuk meninggalkan setiap logika kekerasan dan balas dendam, dan untuk melibatkan diri dengan suatu semangat baru dan kemurahan hati dalam proses yang menuntun kepada hidup bersama yang damai. “Kita” dari Gereja hadir di negara-negara Timur Tengah. Bagaimana kita dapat melupakan situasi mengerikan di Iraq dan “kawanan kecil” orang-orang Kristen yang hidup di wilayah ini? Yang merupakan korban dari kekerasan dan ketidakadilan, namun tetap bertekad untuk memberikan sumbangannya bagi pembangunan masyarakat yang menentang logika konflik dan penolakan terhadap sesama. “Kita” dari Gereja aktif di Sri Lanka, di semenanjung Korea dan di Filipina, juga di negara-negara Asia lainnya sebagai ragi rekonsiliasi dan perdamaian. Di benua Afrika, Gereja tidak berhenti mengangkat suaranya kepada Allah, memohon suatu akhir bagi ketidakadilan di Republik Demokratik Kongo; Gereja mengundang penduduk Guinea dan Niger untuk menghormati hak setiap orang dan untuk berdialog; Gereja memohon kepada mereka yang tinggal di Madagaskar untuk mengatasi perpecahan internal mereka dan untuk saling menerima satu sama lain; dan Gereja mengingatkan semua pria dan wanita bahwa mereka telah dipanggil untuk berharap, walaupun ada banyak tragedi, pencobaan, dan kesulitan, yang masih menyakiti mereka. Di Eropa dan Amerika Utara, “kita” dari Gereja mendesak orang-orang untuk meninggalkan mentalitas teknisis dan keegoisan, untuk maju demi kebaikan bersama dan untuk menghormati pribadi yang paling tidak berdaya, untuk menghormati para janin yang belum dilahirkan.Di Honduras Gerea membantu proses pembangunan kembali lembaga-lembaga kemasyaratakan; dan di seluruh amerika Latin, “kita” Gereja menjadi sumber identitas, suatu kepenuhan kebenaran dan cinta kasih yang tidak dapat digantikan oleh ideologi apapun, suatu undangan untuk menghormati hak-hak yang tidak dapat dipisahkan dari manusia dan pengembangannya yang integral, suatu pewartaan keadilan dan persaudaraan, suatu sumber kesatuan.

Dalam kesetiaan kepada Pendirinya, Gereja menunjukkan solidaritasnya dengan para korban bencana alam dan kemiskinan, bahkan dalam masyarakat yang kaya sekalipun. Bagi mereka yang bermigrasi meninggalkan tanah air mereka karena kelaparan, tidak adanya toleransi, atau kehancuran lingkungan, Gereja hadir dan menyerukan kepada semua orang suatu sikap penerimaan dan selamat datang. Singkatnya, Gereja ada di mana-mana mewartakan Injil Kristus, walaupun dianiaya, didiskriminasi dan diserang dan kadang diabadikan dengan tidak ramah. Keadaan-keadaan sulit ini, sesungguhnya memapukan Gereja untuk berbagi dalam banyak hal dengan Guru dan Tuhannya.

Saudara dan Saudari terkasih, betapa besarlah anugerah untuk menjadi bagian dari persekutuan yang terbuka kepada semua orang! Inilah persekutuan Tritunggal Mahakudus, yang jantung-Nya adalah Imanuel, Yesus, “Allah beserta kita”, datang ke dunia. Seperti para gembala di Betlehem, marilah kita memandang, dengan rasa kagum dan syukur, misteri cinta dan terang! Selamat Natal untuk semua!



Diterjemahkan oleh: Daniel Pane

© Copyright 2009 - Libreria Editrice Vaticana

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting