Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

PENGANTAR

Dewasa ini tidak sedikit dijumpai keluarga-keluarga kristiani yang berdevosi kepada Bunda Maria. Bunda Maria begitu nyata peranannya dalam hidup mereka. Sebab, Bunda Maria adalah penolong dan pengantara keluarga-keluarga Kristiani kepada Allah dalam Kristus ketika mereka mengalami kesulitan dan tantangan dalam hidup. Tiada hentinya Bunda Maria berdoa untuk mereka yang meminta doa-doanya. Peranan Maria dalam hidup keluarga ini sesungguhnya tidak dapat dilepaskan maknanya dari Maria sebagai Bunda Allah dan Maria sebagai Bunda Gereja. Lebih dari itu, Maria sendiri dinyatakan secara khusus sebagai Ratu Keluarga. Karena peranannya, Maria memberikan teladan bagi hidup keluarga kristiani.

 

Maria Bunda Allah

            Gereja menghormati Maria sebagai Bunda Allah karena peranannya yang nyata dalam sejarah keselamatan manusia. Allah telah terlebih dahulu memilihnya menjadi Bunda-Nya (bdk. Luk 1:35,43; Gal 4:4) dan mengaruniakan kepadanya segala rahmat (bdk. Luk 1:28). Sapaan malaikat utusan Allah ini menjadi salah satu dasar yang dipandang oleh para Bapa Gereja untuk mengatakan bahwa sudah sejak awal hidupnya dalam kandungan ibunya, Maria sudah dipenuhi dengan rahmat Allah. Oleh karena tugasnya sebagai Bunda Allah, Maria dibebaskan dari noda dosa.

            Maria sendiri telah membuktikan kepada dunia akan keikutsertaaannya dalam tata keselamatan manusia. Ia menerima sapaan malaikat utusan Allah dan menjadi Bunda Yesus melalui perkataannya sendiri, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun ia memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada pribadi serta karya Putra-Nya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat rahmat Allah yang mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan (LG 56). Dalam hal ini Maria telah menyerahkan kehendak bebasnya untuk mengikuti kehendak Allah dan berjalan dalam iman dan kepatuhannya dalam melaksanakan karya keselamatan Allah bagi manusia. Seperti yang dikatakan S. Ireneus, “Dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia”.

 

Maria Bunda Gereja

            Karena Maria adalah pribadi yang melahirkan Putra, secara tidak langsung ia memberikan Hidup kepada dunia (bdk. Yoh 6:33). Maria disebut sebagai Hawa baru yang melahirkan Kristus, Putra Allah yang memberikan hidup yang kekal. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus membandingkan Adam dengan Kristus: oleh karena ketidaktaatan Adam, semua orang jatuh ke dalam maut, tetapi karena ketaatan satu orang, yaitu Kritus, semua orang memperoleh hidup yang kekal (bdk. Rm 5:12-21). Demikian pula S. Ireneus membandingkan Hawa dengan Maria sebagai Hawa yang baru, “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh Maria.” Dengan melahirkan Kristus, Maria disebut juga Bunda Gereja, karena Kristus sebagai Kepala selalu berada dalam kesatuan dengan Gereja yang adalah anggota-anggota-Nya yang memperoleh hidup di dalam Dia.

Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita dengan Putranya yang wafat di kayu salib, Maria secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru Selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membarui hidup adikodrati jiwa-jiwa (LG 61). Ia telah menjadi pribadi yang taat dalam kerendahan hatinya. Bahkan sesudah naik ke surga, Maria tidak berhenti di situ saja peranannya dalam karya keselamatan manusia. Dengan cinta kasih keibuannya ia memperhatikan saudara-saudara Putranya, yang masih dalam perziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air surgawi yang penuh kebahagiaan (bdk. LG 62). Gereja pun tanpa ragu-ragu mengakui bahwa Maria memainkan peranan yang penting di bawah peranan Kristus, Sang Pemberi Hidup. Maria melindungi kita dengan doa-doanya dan membawa kita semakin bersatu erat dengan Kristus. Karena itu, Gereja menganjurkan kepada kaum beriman, supaya mereka yang ditopang oleh perlindungan Bunda Maria lebih erat menyatukan diri dengan Sang Pengantara dan Penyelamat.

 

Maria Ratu Keluarga

            Dalam Anjuran Apostolik Pasca-sinode Familiaris Consortio tentang Peranan Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern 22 November 1981, Paus Yohanes Paulus II menyatakan, “Semoga Santa Perawan Maria, Bunda Gereja, juga menjadi Bunda Gereja Keluarga. Melalui bantuan Bunda Maria dengan segala keibuannya, semoga setiap keluarga kristiani menjadi suatu “gereja kecil”, dimana misteri Kristus menjadi nyata.” Karena itulah di kemudian hari, Paus Yohanes Paulus II menambahkan satu lagi gelar baru untuk Bunda Maria yaitu Ratu Keluarga di dalam doa Litani kepada Santa Perawan Maria. Penambahan gelar Maria sebagai Ratu Keluarga ini mengalir dari fakta bahwa Maria adalah Bunda Gereja.

Keluarga tidak hanya dipandang sebagai sebuah gereja kecil, keluarga menjadi sebuah tempat pertumbuhan benih iman yang ditanam melalui sakramen baptis. Benih itu kemudian dipupuk melalui pengajaran dan keteladanan hidup yang baik dari para orang tua dan segenap anggota keluarga yang tinggal di dalamnya. Di lain pihak, keluarga yang merupakan sel terkecil dari Gereja ikut serta membangun Tubuh Mistik Kristus. Di dalam keluarga itulah setiap anggota keluarganya belajar untuk berdoa, belajar untuk hidup bersama, belajar keutamaan-keutamaan moral dan sosial sehingga dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat. Di sini kita bisa memohon Maria sebagai Ratu Keluarga untuk membantu keluarga-keluarga sebagai Gereja kecil mengantar, melindungi dengan doa-doa sucinya dalam membangun Tubuh Mistik Kristus itu.

 

Teladan Hidup Maria dalam Keluarga

            Ada banyak hal yang bisa diteladani dari hidup Maria untuk perjalanan hidup setiap keluarga. St. Ambrosius mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah teladan Gereja dalam hal iman, kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus (bdk. LG 63). Kita tidak perlu ragu lagi akan iman dan ketaatan Maria karena ia telah melahirkan Putra, yang oleh Allah dijadikan yang sulung di antara banyak saudara (Rm 8:29), yaitu umat beriman. Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya untuk melahirkan dan mendidik mereka sebagaimana ia melahirkan dan mendidik Putranya.

            Sebagai ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan Yesus, Maria hadir dalam kehidupan Yesus di dunia. Iman Maria diuji, dibentuk, dan disempurnakan oleh Tuhan dalam setiap peristiwa hidup dirinya bersama dengan Putranya, saat kelahiran-Nya, saat harus mengungsi ke Mesir, saat ditinggalkan di Bait Allah, saat peristiwa perkawinan di Kana sampai saat puncaknya ketika ia menghampiri Putranya yang wafat di kayu salib. Maria selalu menyertai perjalanan Putranya dan menyimpan setiap peristiwa itu di dalam hatinya yang suci. Dan di kaki salib itu, saat Yesus yang wafat berada di pangkuannya, Maria membuktikan persatuannya dengan Kristus, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu, ya Tuhan” (bdk. Luk 1:38).

            Lukas secara khusus menampakkan wajah Maria dengan imannya (bdk. Luk 1:45), harapan dan ketaatannya (bdk. Luk. 1:38), dan terutama kerendahan hati dan doa yang dipanjatkannya (bdk. Luk 1:46-56), serta keterbukaan dirinya untuk membiarkan Roh Kudus berkarya di dalam dirinya (bdk. Luk 1:35). Wajah Maria ini menyatakan kepada kita bahwa Maria adalah model yang patut diteladani. Paus Benediktus XVI memberikan sebuah pernyataan tentang Maria dalam kesempatan Perayaan Ekaristi memperingati 150 tahun penampakan Perawan Maria di Lourdes pada tanggal 14 September 2008, “Di tempat ini, Maria datang kepada kita sebagai seorang ibu, yang selalu membuka hatinya pada kepentingan anak-anaknya. Melalui cahaya yang terpancar pada wajahnya, Maria menampakkan Allah yang berbelaskasih. Marilah kita mendekati dia agar pancaran wajahnya menyentuh hati kita sehingga kita merasakan kasih Allah dan yakin bahwa Dia tidak meninggalkan kita! Maria datang untuk mengingatkan kita bahwa doa yang didasarkan atas kerendahan hati, kepercayaan dan penyerahan diri menempati pusat hidup kristiani kita.”

 

Penutup

            Di tengah-tengah tantangan zaman ini yang penuh dengan pertentangan, keluarga-keluarga Kristiani pun mengalami perjuangan dan penderitaan yang besar. Tak jarang banyak keluarga Kristiani mengalami krisis kesetiaan dan minimnya pembinaan iman Kristiani bagi anak-anak mereka. Tetapi di lain pihak, Gereja tetap memperjuangkan makna kehidupan bagi keluarga Kristiani, yakni keutuhan martabat perkawinan dan persekutuan cinta kasih keluarga Kristiani. Dengan membaktikan keluarga-keluarga Kristiani kepada Santa Perawan Maria, Bunda Allah dalam misteri Kristus dan Gereja, maka setiap keluarga Kristiani menjadi teladan bagi segenap keluarga manusia yang mewartakan cinta kasih persaudaraan sejati.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting