User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Allah menciptakan dan memberikan hidup kepada manusia sejak dari dalam kandungan. “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku…, mata-Mu melihat selagi aku bakal anak...” (Mzm 139:13,16). Karena Allah adalah Sang Pencipta, maka hanya Dia sendirilah yang memiliki hak untuk menentukan hidup dan matinya seorang manusia.

Pada saat mendengar salam Maria, Yohanes Pembaptis yang masih berada dalam kandungan Elisabet, melonjak gembira. Yohanes dapat merasakan apa yang terjadi di sekitarnya dan menanggapi kehadiran Tuhan yang menyapanya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa manusia sudah terbentuk sebagai manusia sejak dalam kandungan ibu: Dan, ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus lalu berseru, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:41-42).

 

KELUHURAN HIDUP MANUSIA

Pandangan kristiani tentang hidup sungguh amat luhur, yaitu berupa persekutuan dengan Allah dalam pengenalan cinta kasih akan Dia. Walaupun manusia dibentuk dari debu tanah tetapi hidup manusia itu selalu sesuatu yang baik karena diciptakan menurut gambar Allah (Kej 1: 26 -27). Dalam diri setiap manusia, tercetak gambar dan rupa Allah. Ia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya; oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua mahluk di dunia ini untuk menguasainya, menggunakannya serta meluhurkan Allah. “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat…(Mzm 8: 5-7). Allah melihat “segala sesuatu yang telah dibuat-Nya, dan itu semua amat baiklah adanya(Kej 1: 31). Hidup manusia menampilkan Allah di dunia, menandakan kehadiran-Nya dan mencerminkan kemuliaan-Nya. Manusia dikaruniai martabat yang amat luhur berdasarkan ikatan erat sekali yang menyatukannya dengan Penciptanya. Pada manusia terpancarkan pantulan Allah sendiri (Evangelium Vitae/EV 34).

Dalam hidup manusia, citra Allah memancar oleh karena kedatangan Putra Allah dalam daging manusiawi, “Kristuslah citra sempurna Bapa”. Ketidaktaatan Adam menghancurkan rencana Allah untuk hidup manusia dan memasukkan maut ke dalam dunia. Ketaatan kristus merupakan sumber rahmat yang dicurahkan atas bangsa manusia, dan membuka bagi siapapun juga gerbang Kerajaan hidup. Justru melalui wafat-Nyalah Yesus mewahyukan keluhuran dan nilai hidup, pengurbanan Diri-Nya di Salib menjadi sumber kehidupan baru bagi segenap umat (Evangelium Vitae/EV 33). Barangsiapa dengan kehendak bebasnya (yang merupakan tanda yang mulia gambar Allah dalam diri manusia; Gadium et Spes 17), menyanggupi untuk mengikuti Kristus, dianugerahi kepenuhan hidup: citra ilahi dipulihkan, dibarui serta disempurnakan. Inilah rencana Allah bagi manusia, bahwa ia harus “menyerupai citra Putera-Nya”. Sehingga ia dapat bertindak secara tepat dan melakukan yang baik. Dalam persatuan dengan Kristus sampai kepada kesempurnaan cinta kasih dan kekudusan, dalam kehidupan sehari-hari yang ditopang oleh rahmat Allah, berkembang dalam kemuliaan surgawi menuju kehidupan abadi.

Manusia dilengkapi dengan jiwa yang spiritual dan tak dapat mati, dengan akal budi dan kehendak bebas, pribadi manusia terarah kepada Allah dan dipanggil dengan jiwa dan badannya untuk kebahagiaan kekal. Kebahagiaan kekal ialah memandang Allah dalam kehidupan kekal, saat kita sepenuhnya “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Ptr 1:4), dalam kemuliaan Kristus, dan kegembiraan hidup Tritunggal. Hidup kekal itu sudah dimulai sejak manusia hidup di dunia ini. Dalam Yesus, hidup kekal Allah diwartakan dan dianugerahkan. “Berkat pewartaan dan anugerah ini, hidup fisik dan rohani kita, juga pada tahapnya di dunia, beroleh nilai dan makna sepenuhnya, sebab hidup kekal Allah de facto merupakan tujuan arah serta panggilan hidup kita di dunia ini” (Evangelium Vitae/EV 30).

Hidup manusia adalah suci karena berasal dari Allah. Hidup manusia adalah anugerah kasih Allah, yang harus dipelihara dan dikembangkan sesuai dengan rencana dan kehendak Allah. Setiap orang harus menjalani hidupnya untuk menghasilkan buah menuju kesempurnaan dan kekudusan. Oleh karena hidup adalah anugerah Allah maka manusia tidak dapat memperlakukannya seturut kehendaknya sendiri. Seperti yang dikatakan dalam kitab Ulangan, “Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan” (Ul. 32: 39). Hanya Allah sajalah Tuhan kehidupan sejak awal sampai akhir: tidak ada seorangpun boleh berpretensi mempunyai hak, dalam keadaan mana pun, untuk mengakhiri secara langsung kehidupan manusia yang tidak bersalah” (Katekismus Gereja Katolik 2258).Orang yang tidak bersalah dan orang yang benar tidak boleh kau bunuh(Kel 23: 7). Barangsiapa membunuh seorang janin atau embrio, artinya sama dengan dia telah menghapus atau melenyapkan satu gambar Allah. Dengan pembunuhan yaitu merampas hak hidup orang lain, atau dengan membunuh dirinya sendiri, tidak dapat dibenarkan, karena tindakan tersebut menolak kedaulatan Allah dan penyelenggaraan Ilahi-Nya yang penuh kasih, tidak menghargai Allah sebagai Pencipta bahkan menolak karunia Allah serta merampas hak Allah dalam menentukan hidup seorang manusia. Manusia selalu diingatkan bahwa hidup tidak dapat diganggu gugat—hidupnya sendiri dan hidup sesama—sebagai sesuatu yang bukan miliknya, sebab menjadi milik dan karunia Allah Sang Pencipta kehidupan (Evangelium Vitae/EV 40).

Situasi dewasa ini yang sangat memprihatinkan dipengaruhi pula oleh kemajuan ilmu dan tehnologi yang berkembang pesat, muncullah serangan-serangan baru melawan martabat manusia, timbul keprihatinan yang mempengauhi opini umum secara luas membenarkan tindak-tindak kriminal tertentu melawan kehidupan demi hak-hak atas kebebasan perorangan, dan berdasarkan itu menuntut bukan hanya pembebasan hukuman, melainkan bahkan pengesahan kebebasan sepenuhnya. Tuhan bersabda kepada Kain: “Apakah yang telah kauperbuat? Darah adikmu itu berteriak dari tanah (Kej 4: 10), ditujukan juga kepada kita pada zaman sekarang (Kej 4:10). Suara darah yang ditumpahkan manusia menuntut balas kepada Allah atas tindakan manusia yang menyerang dan membunuh sesamanya, yaitu serangan atau pembunuhan pada awal kehidupan (aborsi) dan akhir kehidupan (eutanasia) pada saat-saat yang paling rapuh dan sama sekali tidak mempunyai upaya untuk membela diri. Allah memberikan kebebasan kepada manusia tetapi manusia menyalahgunakan kebebasan itu untuk melawan hukum cinta kasih yang membuat hidup manusia tidak ada artinya, betapa murahnya hidup manusia. Suara hati manusia menjadi semakin gelap semakin sukar untuk membedakan nilai dasar hidup manusiawi antara yang baik dan yang jahat.

Sekularisme menjerat manusia yang menyebabkan surutnya kesadaran akan Allah dan kecenderungan kehilangan kesadaran akan sesama manusia, martabat dan hidupnya serta menggiring manusia pada “materialisme praktis” yang menumbuhkan individualisme, hedonisme (kenikmatan), dan utilitarisime (hidup manusia disempitkan pada soal “kegunaan)”. Bayi, orang cacat, orang yang lanjut usia, dianggap tidak berguna, maka harus dimusnahkan). Seksualitas tidak lagi sebagai bahasa cinta kasih, yakni penyerahan diri dan penerimaan orang lain tetapi sebagai sumber kenikmatan yang memuaskan naluri-naluri pribadi yang didorong oleh cinta diri yang tidak teratur. Demikian juga makna asli seksualitas untuk menyatukan dan mengadakan keturunan dikhianati dan kesuburannya ditentukan pada pilihan sesuka hati pasangan. “Sesama” dipandang bukan menurut “keberadaan” mereka melainkan menurut apa yang mereka “miliki, perbuat dan hasilkan” (Evangelium Vitae/EV 23).

 

PERINTAH JANGAN MEMBUNUH

Perintah “jangan membunuh”, ditegaskan oleh Tuhan Yesus kepada si pemuda kaya yang bertanya kepada-Nya: “Guru, perbuatan baik manakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup kekal?” Yesus menjawab: “Kalau engkau ingin memasuki hidup, laksanakanlah perintah-perintah Allah…Jangan membunuh…” (Mat 19: 16-18). Jadi unsur terdalam dalam perintah Allah untuk melindungi hidup manusia sebagai hukum utama, hukum cinta kasih yaitu menghormati dan mencintai tiap orang dan hidup tiap orang. Bila manusia melakukan pembunuhan berarti manusia mengambil alih hak Allah, Tuan dan Pencipta kehidupan. Ini merupakan sebuah kesombongan.

Kain memang tidak mau berpikir tentang adiknya dan menolak tanggung jawab yang ada pada tiap orang terhadap sesamanya. Firman Tuhan kepada Kain, “Di mana Habel adikmu itu?” Kain menjawab, “Aku tidak tahu” (Kej 4: 9). Padahal tidak mungkin ia tidak tahu sebab Kain sendirilah yang memukul Habel adiknya hingga ia mati (bdk. Kej 4:8). Dewasa ini banyak orang menolak tanggung jawab atas saudara-saudari mereka, seperti tiadanya solidaritas terhadap anggota-anggota masyarakat yang paling lemah, terhadap orang yang lanjut usia, orang sakit, anak-anak, dan lain lain.

Situasi dunia dewasa ini muncul suatu budaya yang oleh Paus Yohanes Paulus II disebut dengan budaya maut (Culture of Death) yang pada dasarnya menentang kehidupan. Dalam mentalitas ini, bayi maupun orang tua yang sakit-sakitan dianggap sebagai ‘beban’ sehingga muncullah budaya aborsi dan euthanasia. Padahal seharusnya, manusia memilih kehidupan seperti yang diperintahkan Allah, “Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi Tuhan Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut kepada-Nya….” (Ul 30:19-20).

 

Pembunuhan pada Awal Kehidupan

   Hidup manusia itu keramat dan tidak dapat diganggu gugat, termasuk pada tahap awal sebelum kelahiran. Paus Yohanes Paulus II mengutip pandangan Paus Pius XII yang menolak semua pengguguran langsung, yakni setiap tindakan yang secara langsung dimaksud untuk menghancurkan hidup manusia dalam rahim (EV 62).

Beberapa alasan terjadinya pengguguran: oleh karena alasan kesejahteraan keluarga, melindungi kesehatannya sendiri atau menginginkan mutu hidup yang layak bagi anggota-anggota keluarganya lainnya, bayi yang akan dilahirkan cacat, tekanan-tekanan yang kadang-kadang datang dari lingkungan keluarga yang lebih luas dan dari teman-teman, kehamilan di luar nikah. ditinggalkan pasangan, kemiskinan, tidak punya rumah, kekerasan, pendidikan kurang, pengangguran, masalah-masalah emosional, inses, perkosaan, dll.

Ada dua kelompok yang memperdebatkan Aborsi, yaitu kelompok “pro-choice” yang mengacu kepada hak ibu untuk ‘memilih’ nasib dirinya dan bayi yang dikandungnya. Alasan kedua berkaitan dengan awal kehidupan manusia. Kapan manusia disebut manusia? Mereka tidak menganggap bahwa yang ada di dalam kandungan itu adalah manusia. Sedangkan kelompok “pro-life” berusaha untuk memperjuangkan kehidupan manusia terutama janin dan menentang legalisasi aborsi. Kelompok ini mempercayai bukti yang diperoleh dari ilmu genetika modern, bahwa sejak tahap pertama (pembuahan sel telur oleh sel sperma) sudah tersusun program bagaimana mahluk hidup itu adanya di masa mendatang, sebagai seorang pribadi individual dengan aspek-aspek yang karakteristik.

 

Pembunuhan pada Masa Akhir Kehidupan

Eutanasia yang artinya mengendalikan maut dan mendatangkannya sebelum waktunya dan dengan halus mengakhiri hidupnya sendiri atau hidup orang lain (eutanasia berarti “kematian bahagia”). “Pembunuhan orang tidak pernah diperbolehkan. Juga kalau orang itu menginginkannya, atau bahkan memintanya, karena terombang-ambing antara hidup dan maut ia meminta tolong dalam membebaskan jiwa yang bergulat mau melepaskan ikatan-ikatan raga dan ingin dibebaskan. Tidak diperbolehkan juga kalau membunuh orang sakit yang sudah tidak mampu hidup lagi.” (Evangelium Vitae/EV 66). Bukankah Allah itu satu-satunya yang berdaulat atas hidup dan maut, “Akulah yang mendatangkan baik maut maupun hidup” (Ul 32: 39).

Seringkali terjadi bahwa keluarga tidak tahan lagi melihat penderitaan dan “berbelaskasihan”, mereka meminta kepada dokter untuk mengakhiri kehidupannya. Ini belaskasihan semu. Sebenarnya, yang dibutuhkan oleh manusia pada umumnya adalah jalan cintakasih dan belaskasihan yang sejati, yang harus disinari oleh cahaya yang selalu baru dan memancar dari iman akan Kristus Sang Penebus yang wafat dan bangkit mulia.

 

Bunuh Diri

Bunuh diri bertentangan dengan kecondongan kodrati manusia supaya memelihara dan mempertahankan kehidupan. Itu adalah pelanggaran berat terhadap cinta diri yang benar, sesama serta bertentangan dengan cinta kepada Allah yang hidup.


 

BEBERAPA PENYELESAIAN MASALAH DALAM MENGHADAPI TANTANGAN BUDAYA MAUT (CUlTURE OF DEATH)

1.               Menaruh Harapan pada Kristus

Seringkali terjadi orang sudah putus harapan oleh karena tekanan-tekanan yang dialaminya sehingga mengambil jalan pintas yang melawan hukum Allah maka sangatlah perlu untuk datang berharap pada Sang Pemilik Kehidupan dengan usaha yang sungguh-sungguh.

Bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih bahwa Allah pemilik hidup, penyelenggara hidup sanggup menyelesaikannya. Dialah Sabda yang menghidupkan yang memberikan kekuatan untuk dapat menanggung dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi, “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Fil 4: 13).

Harapan adalah keutamaan teologal yang membuat kita merindukan dan menantikan kehidupan abadi yang berasal dari Allah sebagai kebahagiaan kita, memercayakan diri kita kepada janji Kristus, dan bersandar pada bantuan rahmat Roh Kudus agar pantas menerimanya dan teguh bertahan sampai akhir hidup kita di dunia.

Berharap penuh kepasrahan seperti seorang anak, dengan rendah hati, kepercayaan yang teguh dan tekun, percaya bahwa Dia Bapa kita yang mengasihi kita terlebih dahulu (Rom 5: 2-5). Bagi mereka yang percaya akan Kristus dan menaruh harapan pada-Nya; oleh karena dari hidup, wafat dan kebangkitan Kristus, kehidupan terutama kematian orang kristiani mandapat makna baru, seperti kata St. Paulus: “bila kita hidup, kita hidup bagi Tuhan, bila kita mati, kita mati bagi Tuhan. Apakah kita hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Rom 14: 8). Dengan darah Kristus yang menebus, menyembuhkan serta memperbarui, belajar mengenali dan menghargai martabat yang diciptakan menurut “gambar dan rupa Allah”. Darah Kristus yang dikorbankan bagi manusia menunjukkan betapa berhargalah manusia dalam pandangan Allah, dan betapa tiada taranya nilai hidupnya.

Kepastian mengenai keabadian mendatang dan harapan akan kebangkitan yang dijanjikan menerangi misteri penderitaan dan kematian dan memenuhi kaum beriman dengan daya istimewa, untuk menyerahkan diri kepada rencana Allah (Evangelium Vitae/EV, 67). Kita tidak perlu kuatir akan apapun juga karena percaya bahwa Allah adalah Bapa kita yang Maha Baik akan mencukupkan kebutuhan kita.

 

2.               Memiliki Hati Nurani yang Murni

Tidak jarang terjadi pada jiwa yang sering melakukan dosa dan tidak ada semangat bertobat maka hati nuraninya menjadi tumpul hingga tersesat karena ketidak-tahuan yang tidak teratasi. Keadaan yang mengerikan adalah bila seseorang sudah tidak perduli untuk mencari yang benar dan baik, dan karena kebiasaan berdosa hati nuraninya perlahan-lahan menjadi buta, akhirnya tidak dapat mendengarkan sapaan Allah dalam hatinya. Perlu diusahakan terus menerus relasi yang mesra dengan Allah. Hidup dalam keheningan dengan terus menerus dalam semangat pertobatan untuk memeriksa batin dengan jujur secara teratur setiap hari, menerima Sakramen pengakuan dosa serta Sakramen Ekaristi.

“Di lubuk hati manusia yang terdalam manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri tetapi harus ditaatinya. Suara hati itu menyerukan untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan untuk menghindari yang jahat. Sebab dalam hatinya manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah mematuhi hukum itu dan menurut hukum itu pula ia akan diadili (Rom 2: 14-16). Hati nurani adalah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya(Gadium et Spes 16).  Berkat hati nurani dikenallah hukum cinta kasih terhadap Allah dan sesama. Bila semakin besar pengaruh hati nurani yang bersih maka akan terhindarlah dari segala kemauan yang melawan cinta kasih.


 

3.               Berani menanggung apapun yang terjadi dengan Cinta

Allah mempunyai rancangan (Yes 55: 8-9) dan rencana yang indah bagi setiap manusia. Berani melakukan dan menerima segala sesuatu demi cinta kepada Allah dan mengarahkan hati pada nilai-nilai keabadian.

Penderitaan yang ditanggung dan dirangkul dengan penuh cinta akan membawa kepada kekudusan. Takut menanggung penderitaan dapat menjadi suatu halangan besar bagi kekudusan, sedangkan keinginan akan kenikmatan akan menjadi halangan bagi keselamatan.

Allah membiarkan orang-orang benar di cobai demi suatu kebaikan yang lebih tinggi. Hal itu lebih dapat dimengerti bila dilihat dalam terang hidup abadi walaupun bila itu menimpa kita, membutuh perjuangan untuk menerimanya, seperti yang dikatakan oleh St. Paulus: penderitaan di masa ini, tidak sebanding bila dibandingkan dengan kemuliaan yang disediakan Allah.

Seringkali digambarkan orang yang benar, dicobai seperti emas disepuh dalam api, supaya kotorannya hilang dan emasnya lebih bersinar. Demikian juga dengan orang yang benar dicobai oleh Allah, banyak mengalami pemurnian-pemurnian dan pembentukan supaya mereka lebih mampu menerima rahmat yang lebih besar, yang disediakan Allah bagi mereka. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri,  ranting-ranting kering dipotong dan dibakar, tetapi ranting yang baik dibersihkan dan dimurnikan (Yoh 15:2).  Penderitaan bukan berasal dari Tuhan tetapi Tuhan membiarkan hal itu terjadi demi kebaikan kita (Rm 8: 28).

Mengapa manusia harus menderita?

·    Penderitaan juga merupakan tanda cintakasih Allah, rahmat yang mempersatukan kita dengan-Nya karena dapat mencicipi yang dialami-Nya dengan cinta kepada Allah mau menerima apapun yang dikendaki-Nya juga untuk setiap penderitaan yang dibiarkan-Nya terjadi.

·         Mengambil bagian dalam karya keselamatan dan memiliki nilai penebusan.

·         Penderitaan menguatkan kita meninggalkan semangat keduniawian, silih bagi dosa.

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat16:24).

Perlu mengambil keputusan untuk merangkul penderitaan, dengan cara dan sesuai dengan yang kehendaki-Nya. Mempunyai sikap, “terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”, suatu kelepasan total tanpa syarat kepada Allah, disertai dengan kepercayaan yang besar akan penyelenggaraan kasih Allah.

 

4.               Kerinduan untuk mencari dan melaksanakan kebenaran

Sesungguhnya manusia mempunyai “jiwa yang bersifat rohani dan kekal abadi” (Gadium et Spes 14), akan mengalami hidup batin yang mendalam bila masuk ke dalam lubuk hatinya karena Allah yang menyelami lubuk hati dan menantikannya, “Aku Tuhan, yang menyelidiki hati, yang menguji batin,” (Yer 17: 10). “Kodrat pribadi manusia disempurnakan melalui kebijaksanaan, yang dengan cara yang menyenangkan menarik budi manusia untuk mencari dan mencintai apa yang serba benar dan baik” (GS 15,2). Yesus mengajak kita agar berjuang untuk “Hidup benar di hadapan Allah”. Meresapkan Sabda Tuhan dan melaksanakan-Nya dalam doa yang tak kunjung putus sambil mengucap syukur, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6: 33). Bagi orang-orang yang bertegar hati yang membela diri dan berpegang pada pandangannya sendiri diperlukan kerendahan hati, keterbukaan serta kerelaan hati untuk menerima dan melaksanakan kebenaran Allah.

Menaruh kepercayaan bahwa Yesus sungguh hidup yang selalu menyertai dalam setiap perkara, Dialah jawaban bagi hidup kita, karena Dia adalah Allah yang Maha Kuasa, Allah Maha Tahu serta Allah Maha kasih. Berani menyerahkan dan membiarkan diri untuk dibimbing oleh Roh Kudus menuju kebenaran dan pengenalan akan Yesus Kristus yang hidup “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14: 6).

 

PENUTUP

Gereja menyadari bahwa terdapat banyak faktor yang menyebabkan seorang wanita melakukan aborsi. Gereja mengajak para wanita yang telah melakukan aborsi dan bagi para dokter, petugas medis atau siapapun yang pernah terlibat dalam tindakan aborsi, entah dengan menganjurkannya ataupun dengan membantu proses aborsi itu sendiri, untuk menghadapi segala yang telah terjadi dengan jujur. Perbuatan aborsi tetap merupakan perbuatan yang sangat salah dan dosa, namun juga janganlah berputus asa dan kehilangan harapan. Datanglah kepada Tuhan dalam pertobatan yang sungguh dalam Sakramen Pengakuan Dosa, percayakanlah kepada Allah Bapa jiwa anak yang telah diaborsi. Demikian pula yang telah terlibat dalam pelaksanaan euthanasia, untuk datang menghadap tahta kerahiman Allah. Mulai sekarang junjunglah keluhuran nilai kehidupan, entah dengan komitmen mengasuh anak-anak yang lain, atau bahkan menjadi promotor bagi banyak orang agar mempunyai pandangan yang baru dalam melihat makna kehidupan manusia.

 

Pengajaran Alkitab dan Gereja Khatolik menyatakan, “Kehidupan manusia adalah suci karena sejak dari awalnya melibatkan tindakan penciptaan Allah”. Kehidupan dan kematian adalah sesuatu yang menjadi hak Allah, manusia tidak berkuasa untuk menyalahgunakannya. Gereja Katolik tetap menyatakan sikapnya yang “pro-life“, mendukung kehidupan, sebab, Gereja menghormati Allah Pencipta yang memberikan kehidupan itu. Aborsi dan euthanasia adalah tindakan pembunuhan manusia yang menentang hukum alam dan hukum Allah, maka mengakibatkan hal yang sangat negatif kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dengan tindakan melindungi, memelihara serta menghormati kehidupan, manusia mencapai kesempurnaan dalam menghayati hidup Kristen yang sejati dan merupakan bukti nyata dari iman kita kepada Kristus, yang adalah Sang Hidup (Yoh 14:6) dan pemberi hidup itu sendiri.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting