Allah Pemberi Hidup

User Rating:  / 3
PoorBest 

Allah menciptakan dan memberikan hidup kepada manusia sejak dari dalam kandungan. “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku…, mata-Mu melihat selagi aku bakal anak...” (Mzm 139:13,16). Karena Allah adalah Sang Pencipta, maka hanya Dia sendirilah yang memiliki hak untuk menentukan hidup dan matinya seorang manusia.

Pada saat mendengar salam Maria, Yohanes Pembaptis yang masih berada dalam kandungan Elisabet, melonjak gembira. Yohanes dapat merasakan apa yang terjadi di sekitarnya dan menanggapi kehadiran Tuhan yang menyapanya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa manusia sudah terbentuk sebagai manusia sejak dalam kandungan ibu: Dan, ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus lalu berseru, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:41-42).

 

KELUHURAN HIDUP MANUSIA

Pandangan kristiani tentang hidup sungguh amat luhur, yaitu berupa persekutuan dengan Allah dalam pengenalan cinta kasih akan Dia. Walaupun manusia dibentuk dari debu tanah tetapi hidup manusia itu selalu sesuatu yang baik karena diciptakan menurut gambar Allah (Kej 1: 26 -27). Dalam diri setiap manusia, tercetak gambar dan rupa Allah. Ia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya; oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua mahluk di dunia ini untuk menguasainya, menggunakannya serta meluhurkan Allah. “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat…(Mzm 8: 5-7). Allah melihat “segala sesuatu yang telah dibuat-Nya, dan itu semua amat baiklah adanya(Kej 1: 31). Hidup manusia menampilkan Allah di dunia, menandakan kehadiran-Nya dan mencerminkan kemuliaan-Nya. Manusia dikaruniai martabat yang amat luhur berdasarkan ikatan erat sekali yang menyatukannya dengan Penciptanya. Pada manusia terpancarkan pantulan Allah sendiri (Evangelium Vitae/EV 34).

Dalam hidup manusia, citra Allah memancar oleh karena kedatangan Putra Allah dalam daging manusiawi, “Kristuslah citra sempurna Bapa”. Ketidaktaatan Adam menghancurkan rencana Allah untuk hidup manusia dan memasukkan maut ke dalam dunia. Ketaatan kristus merupakan sumber rahmat yang dicurahkan atas bangsa manusia, dan membuka bagi siapapun juga gerbang Kerajaan hidup. Justru melalui wafat-Nyalah Yesus mewahyukan keluhuran dan nilai hidup, pengurbanan Diri-Nya di Salib menjadi sumber kehidupan baru bagi segenap umat (Evangelium Vitae/EV 33). Barangsiapa dengan kehendak bebasnya (yang merupakan tanda yang mulia gambar Allah dalam diri manusia; Gadium et Spes 17), menyanggupi untuk mengikuti Kristus, dianugerahi kepenuhan hidup: citra ilahi dipulihkan, dibarui serta disempurnakan. Inilah rencana Allah bagi manusia, bahwa ia harus “menyerupai citra Putera-Nya”. Sehingga ia dapat bertindak secara tepat dan melakukan yang baik. Dalam persatuan dengan Kristus sampai kepada kesempurnaan cinta kasih dan kekudusan, dalam kehidupan sehari-hari yang ditopang oleh rahmat Allah, berkembang dalam kemuliaan surgawi menuju kehidupan abadi.

Manusia dilengkapi dengan jiwa yang spiritual dan tak dapat mati, dengan akal budi dan kehendak bebas, pribadi manusia terarah kepada Allah dan dipanggil dengan jiwa dan badannya untuk kebahagiaan kekal. Kebahagiaan kekal ialah memandang Allah dalam kehidupan kekal, saat kita sepenuhnya “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Ptr 1:4), dalam kemuliaan Kristus, dan kegembiraan hidup Tritunggal. Hidup kekal itu sudah dimulai sejak manusia hidup di dunia ini. Dalam Yesus, hidup kekal Allah diwartakan dan dianugerahkan. “Berkat pewartaan dan anugerah ini, hidup fisik dan rohani kita, juga pada tahapnya di dunia, beroleh nilai dan makna sepenuhnya, sebab hidup kekal Allah de facto merupakan tujuan arah serta panggilan hidup kita di dunia ini” (Evangelium Vitae/EV 30).

Hidup manusia adalah suci karena berasal dari Allah. Hidup manusia adalah anugerah kasih Allah, yang harus dipelihara dan dikembangkan sesuai dengan rencana dan kehendak Allah. Setiap orang harus menjalani hidupnya untuk menghasilkan buah menuju kesempurnaan dan kekudusan. Oleh karena hidup adalah anugerah Allah maka manusia tidak dapat memperlakukannya seturut kehendaknya sendiri. Seperti yang dikatakan dalam kitab Ulangan, “Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan” (Ul. 32: 39). Hanya Allah sajalah Tuhan kehidupan sejak awal sampai akhir: tidak ada seorangpun boleh berpretensi mempunyai hak, dalam keadaan mana pun, untuk mengakhiri secara langsung kehidupan manusia yang tidak bersalah” (Katekismus Gereja Katolik 2258).Orang yang tidak bersalah dan orang yang benar tidak boleh kau bunuh(Kel 23: 7). Barangsiapa membunuh seorang janin atau embrio, artinya sama dengan dia telah menghapus atau melenyapkan satu gambar Allah. Dengan pembunuhan yaitu merampas hak hidup orang lain, atau dengan membunuh dirinya sendiri, tidak dapat dibenarkan, karena tindakan tersebut menolak kedaulatan Allah dan penyelenggaraan Ilahi-Nya yang penuh kasih, tidak menghargai Allah sebagai Pencipta bahkan menolak karunia Allah serta merampas hak Allah dalam menentukan hidup seorang manusia. Manusia selalu diingatkan bahwa hidup tidak dapat diganggu gugat—hidupnya sendiri dan hidup sesama—sebagai sesuatu yang bukan miliknya, sebab menjadi milik dan karunia Allah Sang Pencipta kehidupan (Evangelium Vitae/EV 40).

Situasi dewasa ini yang sangat memprihatinkan dipengaruhi pula oleh kemajuan ilmu dan tehnologi yang berkembang pesat, muncullah serangan-serangan baru melawan martabat manusia, timbul keprihatinan yang mempengauhi opini umum secara luas membenarkan tindak-tindak kriminal tertentu melawan kehidupan demi hak-hak atas kebebasan perorangan, dan berdasarkan itu menuntut bukan hanya pembebasan hukuman, melainkan bahkan pengesahan kebebasan sepenuhnya. Tuhan bersabda kepada Kain: “Apakah yang telah kauperbuat? Darah adikmu itu berteriak dari tanah (Kej 4: 10), ditujukan juga kepada kita pada zaman sekarang (Kej 4:10). Suara darah yang ditumpahkan manusia menuntut balas kepada Allah atas tindakan manusia yang menyerang dan membunuh sesamanya, yaitu serangan atau pembunuhan pada awal kehidupan (aborsi) dan akhir kehidupan (eutanasia) pada saat-saat yang paling rapuh dan sama sekali tidak mempunyai upaya untuk membela diri. Allah memberikan kebebasan kepada manusia tetapi manusia menyalahgunakan kebebasan itu untuk melawan hukum cinta kasih yang membuat hidup manusia tidak ada artinya, betapa murahnya hidup manusia. Suara hati manusia menjadi semakin gelap semakin sukar untuk membedakan nilai dasar hidup manusiawi antara yang baik dan yang jahat.

Sekularisme menjerat manusia yang menyebabkan surutnya kesadaran akan Allah dan kecenderungan kehilangan kesadaran akan sesama manusia, martabat dan hidupnya serta menggiring manusia pada “materialisme praktis” yang menumbuhkan individualisme, hedonisme (kenikmatan), dan utilitarisime (hidup manusia disempitkan pada soal “kegunaan)”. Bayi, orang cacat, orang yang lanjut usia, dianggap tidak berguna, maka harus dimusnahkan). Seksualitas tidak lagi sebagai bahasa cinta kasih, yakni penyerahan diri dan penerimaan orang lain tetapi sebagai sumber kenikmatan yang memuaskan naluri-naluri pribadi yang didorong oleh cinta diri yang tidak teratur. Demikian juga makna asli seksualitas untuk menyatukan dan mengadakan keturunan dikhianati dan kesuburannya ditentukan pada pilihan sesuka hati pasangan. “Sesama” dipandang bukan menurut “keberadaan” mereka melainkan menurut apa yang mereka “miliki, perbuat dan hasilkan” (Evangelium Vitae/EV 23).

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting